Langkah ini juga mendorong percepatan transisi energi dengan portofolio bahan bakar rendah karbon, sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa integrasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, dan mendorong daya saing perusahaan.
Sistem terintegrasi memungkinkan koordinasi antarfungsi lebih cepat, pengambilan keputusan efektif, serta investasi optimal. Di era perubahan geopolitik dan persaingan ketat, Indonesia butuh Pertamina yang lincah dan kuat.
“Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke,” ujar Simon.
Subholding Downstream ini menargetkan transformasi menyeluruh, khususnya peningkatan kualitas pelayanan. Proses integrasi, yang berlaku per 1 Februari 2026, dipastikan tidak mengganggu layanan kepada masyarakat, mitra, maupun pekerja.
Baca Juga: Kilang Pertamina Plaju Genjot Produksi Avtur, Dukung Keberangkatan Haji 2024
Sebaliknya, ia diarahkan untuk pasokan energi yang lebih tangguh melalui kolaborasi lintas divisi, dengan dampak positif bagi bangsa dan generasi mendatang—semangat Energizing Indonesia.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa integrasi ini wujud komitmen Pertamina mendukung Asta Cita swasembada energi.






