Agung menjelaskan bahwa spesifikasi teknis bioavtur produksi Pertamina telah melewati uji coba pada pesawat komersial Airbus A320-200 milik Pelita Air Services.
“Di luar pasar domestik, kami menargetkan pasar penerbangan regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Kami siapkan SAF agar siap ekspor dan mampu bersaing, baik dari sisi spesifikasi teknis, keberlanjutan, maupun standar global,” tambahnya.
Strategi ‘Dual-Growth’ di Green Refinery
Produksi SAF Pertamina saat ini difokuskan di Green Refinery Cilacap dengan teknologi co-processing yang menghasilkan campuran SAF sebesar 2,4 persen.
Baca Juga: Genjot Program Optimus, Pertamina Hulu Energi Hemat Biaya USD 635 Juta Sepanjang 2025
Langkah ini merupakan bagian dari strategi dual-growth, yakni mengoptimalkan kilang lama sembari membangun portofolio bisnis rendah karbon.
“Di Pertamina, SAF bukanlah inisiatif yang berdiri sendiri, melainkan implementasi langsung dari strategi dual-growth kami, yaitu memaksimalkan aset kilang warisan sambil membangun bisnis rendah karbon yang dapat dikembangkan,” jelas Agung.
Menuju Mandatori 2027
Saat ini, Pertamina tengah memacu proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2029. Peningkatan kapasitas ini dipersiapkan untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait mandatori campuran SAF 1 persen untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai tahun 2027.
Tantangan utama yang dihadapi saat ini, menurut Agung, bukan lagi soal teknologi pengolahan, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan. Indonesia memiliki potensi besar dari limbah UCO dan residu Palm Oil Mill Effluent (POME) yang melimpah.






