Targetnya jelas, agar ekonomi Indonesia tak melulu “kecanduan” pada ekspor komoditas sumber daya alam mentah. Airlangga pun menyinggung konsep S-Curve dalam inovasi teknik industri sebagai acuan.
Baca Juga: Nindya Karya Tuntaskan Pembangunan KEK Sanur, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bali
“S-Curve itu pelajaran innovation di teknik industri. Jadi S-Curve itu di manapun harus ada R&D investment dan saya mendorong ekonomi Indonesia base-nya juga S-Curve, selalu ada research dan ke depan itu barangnya apa yang harus kita menjadi kuat,” ujar Airlangga.
Fondasi Manusia dan Pangan
Mesin ketiga, sekaligus yang paling fundamental, adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Pemerintah kini terobsesi mencetak ratusan ribu tenaga kerja terampil untuk mengisi celah di ekosistem gig economy dan ekonomi kreatif. Di tangan anak-anak muda inilah produktivitas jangka panjang digantungkan.
Di sisi lain, pemerintah tetap berjaga-jaga pada sektor perut. Ketahanan pangan masuk dalam radar stabilitas nasional untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global.
Hingga akhir 2025, rapor ekonomi memang tampak solid: pertumbuhan kuartal IV mencapai angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir di kisaran 5 persen, dengan inflasi yang “jinak” di level 3,55 persen.
Dengan cadangan devisa sebesar USD156 miliar, pemerintah merasa punya cukup bensin untuk menjalankan ketiga mesin tersebut menuju target pertumbuhan yang dipatok Presiden Prabowo Subianto. (*)






