Baca Juga: Hilirisasi Pertambangan Dipercepat, Presiden Pastikan SGAR Segera Rampung
Lonjakan Utang dan Krisis Likuiditas
Selain anjloknya laba, struktur neraca (balance sheet) SSIA memperlihatkan risiko finansial yang meningkat.
Total liabilitas atau utang melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp4,63 triliun dari posisi sebelumnya Rp2,37 triliun.
Peningkatan signifikan terlihat pada utang bank jangka panjang yang naik dari Rp516 miliar menjadi Rp1,53 triliun.
Indikator paling krusial bagi investor institusi adalah arus kas operasi (operating cash flow). Pada akhir 2025, SSIA membukukan arus kas operasi negatif sebesar Rp1,15 triliun.
Angka ini menunjukkan operasional bisnis inti perusahaan tidak menghasilkan uang tunai, melainkan “membakar” kas. Saldo kas dan setara kas perusahaan pun terpotong 45,9 persen menjadi hanya Rp1,42 triliun.
Baca Juga: Badak LNG Berbagi Wawasan Operasional Kilang ke KPC Guna Sokong Proyek Coal Chemical Plant
Rekalibrasi Portofolio Petrosea
Para analis pasar modal menilai keluarnya investor institusi sekelas Petrosea didasari oleh tiga faktor utama:
Manajemen Risiko: Institusi dengan komite investasi ketat cenderung menghindari emiten yang gagal mempertahankan pertumbuhan laba dan mencatatkan arus kas negatif demi menghindari kerugian yang lebih dalam (unrealized loss).
Penghindaran Risiko Gagal Bayar: Kenaikan utang yang agresif di tengah penurunan pendapatan memunculkan kekhawatiran terkait kemampuan pemenuhan kewajiban utang (leverage risk).
Fokus Bisnis Inti: Pasca perubahan struktur kepemilikan, PTRO tampak sedang melakukan konsolidasi kas untuk mendanai ekspansi proyek jasa pertambangan dan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) yang memberikan margin lebih stabil.






