Bahlil menekankan, “Yang bisa dikerjakan dalam negeri, pakai tenaga kerja dalam negeri. Yang tidak bisa dikerjakan, baru ambil dari luar. Karena ini adalah bagian daripada komitmen kita.”
Baca Juga: Dari Lapas Menuju Mandiri: Warga Binaan Raih Keterampilan Lewat Program FABA PLN
Fokusnya tidak hanya pada baterai kendaraan listrik, tapi juga pada penguatan pembangkit listrik hijau. “Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil (listrik), tapi ini juga didesain untuk baterai panel surya,” tambah Bahlil.
Ekosistem ini meliputi pengembangan katoda di Jawa Barat, serta pembangunan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan bahwa penandatanganan ini adalah tahap awal perjalanan strategis.
“Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada kemitraan investasi, tetapi juga pada penguasaan teknologi dan pengembangan kapasitas industri dalam negeri,” katanya.
Dengan kolaborasi ini, Indonesia berharap bisa mengimbangi dominasi pemain global di industri baterai, sekaligus menjawab tantangan energi masa depan. (*)






