“Fundamental industri kita masih kuat. Permintaan dalam negeri tetap menjadi penopang utama, sehingga mampu menahan tekanan eksternal yang cukup besar,” tuturnya.
Baca Juga: Industri Pengolahan Tetap Loyo, November PMI Manufaktur Kembali Terkontraksi
Perbandingan Global dan Kendala Logistik
Secara komparatif, posisi Indonesia masih bersaing ketat dengan negara-negara jiran di ASEAN. Thailand memimpin dengan skor 54,1, disusul Filipina (51,3), dan Malaysia (50,7). Sementara itu, negara industri maju seperti Jepang juga mencatat perlambatan di angka 51,6.
Namun, survei Maret 2026 memberikan catatan merah pada waktu pengiriman bahan baku yang mengalami keterlambatan paling parah sejak Oktober 2021.
Inflasi harga bahan baku juga menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir, memaksa produsen menyesuaikan harga jual demi menjaga napas operasional perusahaan.
“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi, ini tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi,” tegas Agus.
Baca Juga: PMI Manufaktur Terus Terkontraksi, Kemenperin Keukeuh Tuding Permendag 8/2024 Biang Keladinya
Optimisme Pelaku Usaha
Meski dihimpit beban biaya, optimisme pelaku industri rupanya belum luntur. Data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026 menunjukkan 73,7 persen responden merasa kegiatan usahanya stabil dan membaik.
Bahkan, 71,8 persen pelaku usaha tetap yakin kondisi bisnis mereka akan lebih cerah dalam enam bulan ke depan.






