Tetapi, sambungnya, dengan perkembangan geopolitik yang seperti ini kemungkinan besar akan nambah. Jadi total investasi sekitar Rp 300 triliun lebih.
Pemerintah optimistis bahwa percepatan Blok Masela tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi dalam negeri, tetapi juga menempatkan Indonesia kembali dalam jajaran pemain utama pasar gas global.
“Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain gas di dunia,” tegas Bahlil.
Baca Juga: Presiden Prabowo di Tokyo: Saya Jadi CEO Negara, Investor Jepang Bisa Langsung Mengadu ke Saya
Diversifikasi Energi Baru Terbarukan
Selain fokus pada migas, Jakarta juga mempertegas komitmen transisi energi menuju Net Zero Emission. Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang mengganggu rantai pasok energi fosil, pemerintah berencana mengoptimalkan seluruh potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki Indonesia.
“Memang kita lagi dorong untuk mempergunakan seluruh potensi energi lain selain fosil yang kita punya. Kenapa? Karena geopolitik ini kita gak pernah tahu kapan selesai. Jadi mau geotermal, mau air, mau matahari, mau angin, selama ada teknologi harganya efisien, kita akan dorong,” tuturnya.
Bahlil menambahkan bahwa keberhasilan kesepakatan di Tokyo ini merupakan buah dari koordinasi solid antarkementerian di bawah komando Sekretaris Kabinet.
“Ini adalah bagian daripada upaya untuk melakukan itu, dan semua ini sudah tentu bisa terjadi karena koordinasi yang baik yang dilakukan oleh Pak Seskab sebagai ketua kelas dalam mengoordinasi urusan-urusan ini di Jepang,” tandasnya. (*)






