Solusi Sistem Sirkulasi Tertutup
Kendati demikian, pengembang dapat menekan pemborosan air melalui adopsi teknologi sirkulasi tertutup atau close loop. Berbeda dari sistem terbuka (open loop) yang membiarkan air menguap ke udara, sistem close loop mengalirkan cairan pendingin secara berulang di dalam pipa tertutup.
“Tapi kelihatannya yang dibangun di Jatiluhur ini adalah close loop, bukan open loop,” tutur Alfons.
Langkah ini sekaligus memenuhi standar teknis perangkat komputasi modern. “Kalau ini sudah data center baru dibangun, bisa langsung pakai close loop. Dan memang Nvidia prosesor terbarunya juga karena sedemikian panasnya, memang mewajibkan untuk semuanya pakai close loop,” ujarnya.
Namun, teknologi sirkulasi tertutup ini menuntut konsumsi daya listrik yang lebih tinggi. “Nah, close loop itu bisa menghemat air dengan sangat signifikan, tetapi lebih boros listrik sekitar 15 sampai 20 persen,” kata Alfons.
Desak Transisi Menuju Energi Hijau
Tingginya serapan setrum tersebut berpotensi mendongkrak emisi karbon nasional secara drastis. Pasalnya, sistem kelistrikan Jawa-Bali saat ini masih mengandalkan pasokan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.
“Dan bukan dari yang terbarukan. Hal itu yang perlu menjadi perhatian. Jadi, PLN dan pemerintah perlu mengaktifkan sumber listrik dari energi terbarukan,” ujarnya.
Alfons menilai operasional pusat data AI berdaya 600 MW memakai listrik batu bara kontraproduktif terhadap target iklim global. “Kalau dari batubara, itu malah nanti emisi karbon, jejak karbon di Indonesia malah jadi buruk kalau ini beroperasi penuh 600 megawatt lalu habis itu bakar batubara terus,” kata Alfons.
Ia menggarisbawahi bahwa klaim surplus setrum milik PLN tidak otomatis menjamin operasional yang bersih dan hijau. “Kalau energinya ini memang walaupun PLN ngakunya kan over supply tapi over supply-nya tuh dari pembangkit listrik tenaga batu bara, tenaga fosil yang tidak menggunakan energi terbarukan. Ini menjadi masalah jika benar dijalankan 600 MW dengan tenaga fosil ini, satu jejak karbon kita akan parah,” ucapnya.
Karena itu, Alfons mendesak pemerintah agar memprioritaskan pemanfaatan pembangkit energi terbarukan, terutama tenaga air dan panas bumi. “Makanya jadi itu harusnya diutamakan untuk meningkatkan pembangkit listrik dari energi terbarukan khususnya energi air atau energi dari panas bumi atau yang lainnya,” kata dia.
Kendati memicu dampak lingkungan, Alfons memandang penguatan infrastruktur komputasi skala raksasa (hyperscaler) lokal sangat krusial bagi kedaulatan digital bangsa. “Perkembangan teknologi dunia artificial intelligence memang enggak terhindarkan dan kita seharusnya memang memiliki ada hyperscaler di dalam negeri ya. Sehingga kita tidak menjadi konsumsi hyperscaler di luar aja,” ujarnya.
Pemusatan infrastruktur pada satu fasilitas terpadu juga menawarkan efisiensi ketimbang menyebar banyak pusat data skala kecil. “Efisiensi jika disebar di banyak data center dibanding dengan satu hyperscaler itu jauh lebih efisien,” pungkasnya.




