Saat siswa Muslim berpuasa di sekolah yang juga memiliki siswa Katolik yang sedang berpantang, atau ketika keluarga Katolik menghormati suasana Ramadan di lingkungan tempat tinggalnya, yang tumbuh bukan sekadar sopan santun, melainkan empati. Empati inilah fondasi kerukunan yang tahan uji.
Lebih jauh, puasa dan pantang mengajarkan satu pesan kunci yang sangat relevan dengan krisis zaman ini: hidup secukupnya. Dunia hari ini tidak kekurangan produksi, tetapi kekurangan pengendalian diri. Banjir, kekeringan, krisis pangan, dan perubahan iklim tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup berlebihan.
Dalam konteks ini, puasa dan pantang menemukan relevansinya yang paling aktual. Menahan diri dari konsumsi berlebih berarti mengurangi tekanan terhadap bumi.
Di sinilah makna pertobatan ekologis menjadi nyata. Ini relevan dengan arah dasar Keuskupan Agung Jakarta dan program prioritas Kementerian Agama. Keuskupan Agung Jakarta, seturut arah dasarnya, mengajak umat Katolik untuk melakukan pertobatan ekologis.
Baca Juga: Taruh Harap di Pasar Palembang Jelang Ramadhan, Mendag Busan Pastikan Harga Bapok Stabil
Kementerian Agama dalam program prioritas 2025-2029 mengarusutamakan aksi ekoteologis lintas iman sebagai wujud membangun dunia sebagai rumah bersama yang lestari dan sehat.
Pertobatan bukan hanya soal dosa personal, tetapi juga tentang cara manusia berelasi dengan alam. Tradisi Katolik, misalnya, melalui refleksi ekologis yang ditegaskan dalam Laudato Si’, mengajak umat melihat bumi sebagai rumah bersama, bukan objek eksploitasi.





