Sementara itu, ajaran Islam menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan. Dua tradisi ini bertemu pada satu titik etis: alam harus dirawat, bukan dihabiskan.
Implementasi di Sekolah, Keluarga, dan MasyarakatÂ
Momentum Ramadan dan masa Prapaskah yang bersamaan dalam Februari ini memberi peluang untuk menerjemahkan nilai-nilai ini ke dalam tindakan konkret.
Di sekolah, misalnya, puasa dapat menjadi pintu masuk pendidikan karakter lintas iman: diskusi tentang makna pengendalian diri, proyek pengurangan sampah makanan di kantin, atau gerakan hemat air selama masa puasa.
Baca Juga: Diplomasi Nasi Mandhi di Manohara: Aroma Saffron dan Tradisi Arab di Meja Ramadhan
Sekolah tidak perlu mencampuradukkan ajaran agama, cukup membuka ruang refleksi bersama tentang nilai kemanusiaan dan kepedulian lingkungan.
Dalam keluarga, masa ini dapat menjadi laboratorium etika paling efektif. Orang tua dapat memberi teladan dengan memasak secukupnya saat berbuka, menghindari pemborosan, dan mengajak anak berbagi dengan yang kekurangan.
Anak-anak belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan membentuk sikap hormat terhadap sesama dan alam. Dalam keluarga lintas iman atau lingkungan heterogen, penghormatan terhadap praktik ibadah tetangga menjadi pelajaran toleransi yang hidup.
Sementara itu, di tingkat masyarakat, pertemuan Ramadan dan Prapaskah dapat mendorong transformasi dari toleransi pasif menuju solidaritas aktif.
Kerja bakti lingkungan, penanaman pohon, pengelolaan sampah bersama, atau dapur umum bagi kelompok rentan dapat diberi makna rohani lintas agama. Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa iman, ketika diwujudkan dalam tindakan, mampu menjawab persoalan bersama.





