Baca Juga: Sambut Ramadhan, Kacang Dua Kelinci Luncurkan Kemasan Baru dan Program THR Digital
Perlu dicatat dan ditekankan, upaya ini bukanlah sinkretisme agama. Setiap tradisi tetap berdiri dengan identitas dan ajarannya masing-masing, tanpa bercampur aduk.
Yang dibangun adalah ruang etis bersama, tempat nilai-nilai universal—kesederhanaan, keadilan, kepedulian—dihidupi secara konkret. Justru dengan saling menghormati perbedaan itulah kerukunan menemukan bentuknya yang paling dewasa.
Indonesia, dengan keberagamannya, membutuhkan lebih banyak momen seperti ini: momen ketika iman tidak dipakai sebagai penanda “kami” dan “mereka”, melainkan sebagai sumber energi moral untuk merawat kehidupan bersama.
Ramadhan dan Prapaskah yang berjalan beriringan adalah pengingat bahwa di balik perbedaan ritus dan doktrin, terdapat panggilan yang sama: menjadi manusia yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama dan bumi.
Akhirnya, pertemuan dua masa puasa ini mengajukan pertanyaan reflektif bagi kita semua: setelah menahan lapar dan membatasi diri, apakah kita juga bersedia mengubah cara hidup dan menjadikannya sebagai karakter diri?
Jika jawabannya ya, maka Ramadan dan Prapaskah tidak berhenti sebagai peristiwa kalender, melainkan menjadi titik balik etis—bagi sekolah, keluarga, dan masyarakat Indonesia—menuju kerukunan yang lebih dalam dan masa depan ekologis yang lebih lestari. (*)
Pormadi Simbolon (Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten)





