URBANCITY.CO.ID – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa program pembangunan rumah subsidi bukan sekadar urusan papan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), melainkan motor penggerak ekonomi riil.
Menurut pria yang akrab disapa Ara ini, setiap pembangunan satu unit rumah mampu menyerap sedikitnya lima tenaga kerja dan menghidupkan ekosistem usaha di sekitarnya.
“Satu rumah yang dibangun berarti ada toko material yang hidup, ada pekerja yang mendapat penghasilan, dan ada warung makan yang laris,” ujar Maruarar dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan, terdapat sedikitnya 172 subsektor usaha yang saling terkait dalam ekosistem industri perumahan ini.
Data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menunjukkan Jawa Barat masih menjadi episentrum perumahan subsidi nasional.
Dengan realisasi mencapai 41.978 unit, provinsi ini mencatatkan angka yang hampir tiga kali lipat dibanding Jawa Tengah (15.838 unit) di posisi kedua. Konsentrasi pembangunan terpaku di koridor industri; Kabupaten Bekasi memimpin dengan 9.537 unit, diikuti Bogor dengan 7.028 unit.
Baca Juga: Laba Bersih BTN Tembus Rp3,5 Triliun di Usia ke-76
Namun, kejutan muncul dari wilayah timur. Sulawesi Tengah merangsek ke posisi tiga besar nasional dengan capaian 14.811 unit, mengungguli provinsi besar seperti Jawa Timur (12.083 unit) dan Banten (12.344 unit).
Di level kota, Kendari mencatatkan angka signifikan 4.251 unit, bersaing ketat dengan Palembang (4.175 unit) dan Deli Serdang (4.047 unit). Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa kebutuhan hunian layak kini mulai terdistribusi secara masif ke luar Pulau Jawa.




