Baca Juga: Benteng Surplus di Tengah Badai, Siasat Budi Santoso Menjaga Nafas Ekspor
“Harga timah tercatat melonjak 59,87 persen dan nikel naik 13,88 persen selama Januari–Februari 2026. Peningkatan harga ini mendorong kenaikan nilai ekspor kedua komoditas tersebut,” terangnya.
Selain komoditas tambang, ekspor lemak dan minyak nabati (HS 15) tumbuh 28,79 persen. Menariknya, meski harga minyak sawit turun, volume ekspornya justru melonjak 34,46 persen akibat tingginya permintaan global. Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia di awal tahun ini.
Impor Barang Modal: Sinyal Ekspansi Industri
Di sisi lain, total impor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 20,89 miliar. Meski secara bulanan turun tipis, impor barang modal justru melonjak signifikan sebesar 34,44 persen secara kumulatif.
Bagi pemerintah, kenaikan impor barang modal dan bahan baku adalah indikator positif yang menandakan geliat aktivitas manufaktur di dalam negeri.
Baca Juga: Mendag Busan Dorong Industri Baja Nasional di Tengah Surplus Perdagangan
Hal ini berbanding lurus dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai level 53,8 pada Februari 2026—posisi tertinggi sejak Maret 2024.
“Hal ini selaras dengan PMI Manufaktur S&P Global Indonesia yang meningkat, memberikan sinyal positif bagi kinerja perdagangan Indonesia di kemudian hari,” pungkas Mendag Busan.
Meski Tiongkok masih menjadi mitra impor utama, pertumbuhan impor tertinggi justru datang dari Prancis yang melonjak 258,88 persen serta Uni Emirat Arab sebesar 138,26 persen.






