URBANCITY.CO.ID – Di Kapling Baru 2, Cilegon, riuh rendah mesin terminal tak lagi mendominasi perbincangan. Di sela-sela permukiman padat Kecamatan Pulau Merak, sebuah revolusi hijau sedang bersemi pelan.
Sekelompok ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa kini tak hanya sibuk dengan urusan dapur, tapi juga mengelola instalasi hidroponik yang ditenagai langsung oleh sang surya.
Inisiatif bertajuk “KreaSea Tumbuh” ini merupakan eksperimen sosial dan lingkungan milik PT Pertamina Energy Terminal (PET) melalui Terminal LPG Tanjung Sekong. Ini bukan sekadar bagi-bagi bantuan, melainkan upaya menyuntikkan pilar Green Terminal ke dalam urat nadi ekonomi warga.
Mandiri Energi, Minim Emisi
Logika ramah lingkungan diterapkan secara teknis. Rumah hidroponik warga kini tak lagi bergantung pada setrum fosil, melainkan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp. Angkanya mungkin terlihat kecil, namun dampaknya nyata: emisi karbon diperkirakan menyusut hingga 1,75 ton CO2 eq per tahun.
Baca Juga: Kilau Batu Besolek di INACRAFT 2026, Transaksi Binaan Pertamina Tembus Rp10,4 Miliar
Tak berhenti di panel surya, urusan pipa pun dibedah. PET memasang double wall insulation untuk menghalau lumut yang kerap menyumbat aliran nutrisi, serta tangki tekan untuk menjaga stabilitas air. Hasilnya, tanaman tumbuh lebih sehat dan sistem menjadi lebih efisien.
Dari Meja Makan ke Kas Bersama
Transformasi ini mengubah pola tani serabutan menjadi sistem yang terukur. Sejak dimulai pada September 2024, jumlah anggota kelompok melonjak dari 9 orang menjadi 30 orang. Ani Sosiawati, Ketua KWT Wahid Sapa, mengenang masa-masa sulit saat semuanya masih dilakukan secara manual.




