“Awalnya program hidroponik dilakukan secara manual, namun setelah didukung bantuan rumah hidroponik dan pendampingan dari Pertamina, program hidroponik sekarang lebih tertata dan hasil panen lebih maksimal,” ujar Ani.
Baginya, keuntungan materiil bukan satu-satunya tujuan. Pengetahuan yang didapat kini menjadi modal sosial bagi para ibu untuk berbagi ilmu kepada tetangga.
Baca Juga: 350 UMKM Perempuan Binaan Pertamina Siap Tembus Pasar Nasional
Soal hasil, warga sekitar pun mulai berpaling. Mariana, seorang warga Kapling Lama, kini menjadi pelanggan setia. “Saya sudah sering beli sayur di sini, biasanya setiap panen pasti beli. Soalnya bagus-bagus dan awet,” katanya. Ia bahkan menyebut harga sayur hidroponik warga lebih kompetitif dibanding harga pasar.
Menyasar Kelompok Rentan
Program ini tak eksklusif bagi anggota KWT. PET juga menyeret kelompok Pemuda Berani Inovasi (PBI), lansia, hingga pengangguran usia produktif ke dalam lingkaran pelatihan. Targetnya jelas: memperkuat kapabilitas individu di tengah bayang-bayang industri besar.
Langkah ini menjadi portofolio penting bagi Terminal Tanjung Sekong yang sedang mengejar sertifikasi Green Terminal.
Sebuah pembuktian bahwa operasional terminal migas bisa berjalan beriringan dengan piring nasi warga yang lebih sehat dan mandiri. (*)






