Ia mencontohkan bagaimana narasi kuat bisa menembus batas medium. “Banyak buku, seperti karya Ika Natassa dan Marchella FP, yang berangkat dari tulisan, kemudian dikembangkan menjadi naskah dan diadaptasi ke film. Basisnya tetap bahasa dan cerita, tetapi dikemas ulang agar bisa dipahami dan dinikmati oleh audiens yang lebih luas,” tutur Irene.
Benteng Orisinalitas
Di tengah kemudahan produksi konten yang ditawarkan mesin, sastrawan Nenden Lilis Aisyah yang turut hadir, mengingatkan tentang bahaya keseragaman.
Baca Juga: Tingkatkan SDM dan Ekonomi Kreatif, Menekraf Terima Audiensi ASICI
AI boleh saja piawai merangkai kata, namun ia tak punya memori atau rasa perih. Nenden menekankan bahwa pengalaman personal adalah “peluru” utama penulis agar tidak tergilas teknologi.
“Dalam menulis, salah satu sumber yang paling kuat adalah pengalaman pribadi. Dari sanalah lahir perbedaan dan keunikan, karena pengalaman yang dihayati secara mendalam akan melahirkan bahasa yang lebih personal dan membuat karya menjadi benar-benar orisinal,” ungkap Nenden.
Senada dengan itu, Direktur Utama Narabahasa, Ivan Lanin, melihat penguasaan bahasa sebagai kunci martabat. Sejak didirikan enam tahun silam, Narabahasa konsisten menjadi pendamping bagi mereka yang punya gagasan hebat tapi kerap terganjal susunan kalimat.
“Tujuan Narabahasa tertuang dalam tiga misi utama, yaitu mengangkat marwah bahasa Indonesia, meningkatkan keterampilan berbahasa masyarakat, dan mendorong kebahagiaan,” kata Ivan.
Bagi sang “Manusia Kamus” ini, ketika seseorang mampu mengekspresikan pikirannya dengan utuh, kepercayaan diri akan tumbuh—dan di sanalah martabat bahasa Indonesia tegak di ruang profesional. (*)






