Namun, Emir menegaskan keberhasilan kebijakan ini tidak boleh hanya berhenti di atas kertas. “Memang tantangannya sekarang lebih kepada percepatan implementasi semua tahapan perencanaan agar dampaknya makin terasa luas di masyarakat,” katanya.
Sentilan Menkeu: Belajar dari Jerman
Kritik Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya sempat memicu diskusi hangat. Ia membandingkan sistem perbankan di Jerman yang menurutnya justru lebih “syariah” dibandingkan Indonesia, meski Jerman bukan negara dengan mayoritas muslim.
Baca Juga: Siar Dana Haji dari Madinah: Indonesia Pamer Inovasi di Al-Baraka
Dalam sebuah forum pekan lalu, Purbaya menceritakan percakapannya dengan pejabat Deutsche Bundesbank. “Walaupun negara kamu negara Islam terbesar di dunia, negara saya lebih syariah dari negara kamu,” kata Purbaya menirukan ucapan koleganya tersebut.
Purbaya menyoroti bagaimana 80 persen perbankan Jerman dikuasai oleh bank lokal kecil yang fokus pada sektor riil dengan margin rendah. “Mereka menaruh di bank itu bunga yang cuma 1 persen, biaya pinjamnya cuma 2 persen,” ungkap Purbaya.
Kini, KNEKS menargetkan peningkatan pangsa pasar dan dampak nyata pada industri halal sebagai indikator utama bahwa perbankan syariah bukan lagi sekadar alternatif yang mahal, melainkan solusi finansial yang kompetitif. (*)






