Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) hingga survei seismik mutakhir dikerahkan untuk memeras isi perut bumi dari lapangan tua (brownfield) maupun lapangan baru (greenfield).
Baca Juga: PHE Catat Produksi Migas Solid 2025, Jaga Ketahanan Energi Nasional
Namun, PHE sadar bahwa mengebor bumi di era krisis iklim menuntut tanggung jawab berbeda. Di sinilah aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dimainkan.
Dengan peringkat ESG BBB, perusahaan mengklaim telah memangkas emisi operasional hingga 1,6 juta ton CO₂e sepanjang 2025.
Ambisi Menyimpan Langit
Langkah paling ambisius PHE justru terletak pada teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS/CCS). Melalui teknologi ini, emisi karbon tak dibiarkan menguap begitu saja ke atmosfer, melainkan ditangkap dan disuntikkan kembali ke dalam reservoir bawah tanah. Potensi penyimpanannya pun fantastis, mencapai 7,3 gigaton CO₂.
Sembari menatap target Net Zero Emission, PHE kini terus mengintip peluang akuisisi dan kerja sama strategis, baik di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga: PHE Catat Produksi Migas Stabil, Cadangan Bertambah di 2025
Bagi PHE, masa depan energi nasional tak hanya soal berapa banyak minyak yang bisa dipompa, tapi seberapa bersih energi itu bisa dihasilkan tanpa mengorbankan kemandirian bangsa. (*)






