Operasionalnya bergantung pada jaringan pipa sepanjang empat kilometer dari Kilang Balongan, yang memasok rata-rata 250 ribu ton propylene per tahun.
Baca Juga: Peran Vital Laboratorium Kilang Balongan, Garda Terdepan Mutu BBM Pertamina
Bahan baku itu diolah dengan teknologi Spheripol dari LyondellBasell menjadi polypropylene berkualitas, dipasarkan dalam berbagai grade untuk sektor kemasan, rumah tangga, kesehatan, dan ritel. Polypropylene ini digunakan untuk membuat peralatan plastik, serat fiber, dan produk olahan lainnya.
Kapasitas produksi Polytama saat ini mencapai 300 ribu ton per tahun, dengan rencana ekspansi hingga 600 ribu ton melalui fasilitas baru, didukung pasokan dari kilang Pertamina di seluruh Indonesia.
“Pemanfaatan propylene dari kilang Pertamina ini berperan strategis dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku petrokimia, serta memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional. Ini sekaligus memperkuat nilai tambah sumber daya dalam negeri,” ujar Baron.
Sinergi ini tak hanya soal produksi, tapi juga strategi jangka panjang untuk mengurangi impor dan membangun ketahanan energi nasional. Dengan integrasi seperti ini, Pertamina Group membuktikan komitmennya pada hilirisasi yang lebih dalam. (*)






