Baca Juga: Agung Podomoro Optimis Program 3 Juta Rumah Dorong Pertumbuhan Pasar Properti
“Stabilitas ini bukan sekadar angka headline—melainkan menjadi landasan bagi keputusan properti saat ini, mulai dari ekspansi multinasional hingga strategi investasi domestik,” kata Anton.
Eksodus ke Gedung Premium
Di jantung bisnis Jakarta (CBD), fenomena “upgrade” ruang kerja kian nyata. Co-Head of Office Services CBRE, Judy Sinurat, mencatat adanya tren perpindahan penyewa menuju gedung-gedung berkualitas lebih tinggi (flight-to-quality). Hasilnya, tingkat okupansi di kawasan elit ini menyentuh angka 76 persen pada pengujung 2025.
Tak mau kalah, wilayah di luar pusat bisnis (non-CBD) juga mulai bersemi. Co-Head of Office Services lainnya, Albert Dwiyanto, mengungkapkan okupansi di wilayah ini naik ke level 74 persen. Sektor manufaktur, energi, teknologi, dan jasa menjadi barisan terdepan yang aktif berburu ruang strategis.
Di sisi lain, sektor industri dan logistik justru tengah mengalami “overheat” yang positif. Head of Industrial Services, Ivana Soesilo, menunjuk hidung sektor kendaraan listrik (EV) dan e-commerce sebagai biang keladinya.
Baca Juga: Pasar Properti 2025 Diprediksi Cerah, Ini Pemicunya
Dengan penyerapan lahan industri mencapai 218 hektare pada 2025, ketersediaan fasilitas logistik modern kini kian langka dengan okupansi mencapai 95 persen.
Mal Bukan Sekadar Tempat Belanja
Sektor ritel pun bersalin rupa. Mal-mal di Jakarta tak lagi sekadar menjadi deretan etalase merek, melainkan destinasi gaya hidup. Strategi menghadirkan konsep pop-up store yang dikurasi dan zona hobi terbukti ampuh membuat pengunjung betah berlama-lama.






