URBANCITY.CO.ID – Masalah klasik kurangnya saldo kartu elektronik (e-toll) kembali menjadi biang kerok kemacetan panjang hingga puluhan kilometer pada arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Menanggapi fenomena ini, pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menilai implementasi teknologi Multi Lane Free Flow (MLFF) sudah mendesak untuk memutus rantai antrean di gerbang tol.
Anton menjelaskan, sistem konvensional saat ini memaksa kendaraan berhenti untuk melakukan transaksi manual, yang memakan waktu 4 hingga 5 detik per kendaraan. Durasi ini melonjak drastis jika pengguna mengalami kendala saldo tidak mencukupi.
“Pada sistem konvensional yang berbasis kartu seperti saat ini menggunakan e-toll, kita harus berhenti tap in untuk melakukan transaksi. Sehingga setiap kendaraan memerlukan waktu layanan kurang lebih 4-5 detik dan akan meningkat drastis jika terjadi saldo kurang,“ kata Anton, Sabtu, 28 Maret 2026.
Baca Juga: Siasat Urai Macet Mudik 2026, Jasa Marga Tebar Diskon Tarif Tol 30 Persen
Problem Saldo dan Dampak Berantai
Data Jasa Marga mencatat insiden saldo kurang bukan perkara sepele. Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengungkapkan pada periode 11-22 Maret 2026, terdapat 21 ribu kendaraan yang kekurangan saldo di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung. Angka ini mencapai 4,9 persen dari total trafik di gerbang tersebut.
“Dengan saldo e-toll kurang yang berdampak pada tingginya aktivitas top up di gerbang tol, maka akan mengakibatkan waktu penundaan yang cukup signifikan dan mengakibatkan antrean di gerbang tol,” ujar Rivan.




