URBANCITY.CO.ID – Pertamina digadang-gadang bakal menjadi dirigen transisi energi hijau di Indonesia. Di hadapan para penguji Green Leadership PROPER 2024-2025, Selasa, 10 Februari 2026, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri tak sekadar memaparkan angka-angka produksi.
Di Jakarta hari itu, ia membawa cetak biru bertajuk “Pertamina Beyond Energy”. Sebuah ambisi untuk menggeser posisi sang raksasa minyak dari sekadar penyedia bahan bakar fosil menjadi dirigen transisi energi hijau di Indonesia.
Simon memperkenalkan “Dual Growth Strategy” sebagai kompas baru perusahaan. Strategi ini ibarat berjalan di dua kaki: satu kaki mengoptimalkan bisnis migas konvensional demi mengamankan perut energi nasional, sementara kaki lainnya melangkah lebar menuju ekosistem rendah karbon.
“Seluruh program Pertamina, baik operasional maupun sosial, dijalankan selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan Gerakan Indonesia ASRI,” ujar Simon.
Baca Juga: Terbang Rendah Karbon: Pertamina Sabet Avirama Nawasena Lewat Bahan Baku Minyak Jelantah
Langkah dekarbonisasi Pertamina kini mulai merambah ke teknologi canggih seperti Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) yang diklaim mampu memangkas emisi hingga 980 ribu ton CO2e.
Di udara, Pertamina mulai menjajaki langit melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF)—bahan bakar pesawat yang diramu dari minyak jelantah. “Ini adalah wujud kepemimpinan Pertamina dalam orkestrasi transisi energi nasional,” tegasnya.
Namun, transisi energi bagi Simon tidak boleh tercerabut dari akar rumput. Ia menunjuk proyek WASTECO di Balikpapan sebagai contoh bagaimana sampah organik diolah menjadi gas metana untuk dapur warga.




