Melalui SBPO, OJK juga menghimpun informasi terkait outlook ekonomi global dan Indonesia tahun 2024, dimana ekonomi global tahun ini diperkirakan melambat seiring ketidakpastian global akibat konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina yang berdampak pada kenaikan harga energi dan pangan.
Baca juga: Mau Jadi Regional Champion, BPD Harus Tambah Modal
Selain itu, perlambatan ekonomi Tiongkok juga menyebabkan harga komoditas terus melandai. Selanjutnya, potensi inflasi global yang masih relatif tinggi dapat menyebabkan The Fed tidak lekas memangkas suku bunga, namun cenderung melakukannya secara bertahap.
Di tengah risiko perlambatan ekonomi global, ekonomi Indonesia diperkirakan dapat resilien, ditopang oleh konsumsi masyarakat yang terjaga sejalan dengan inflasi yang masih dalam range target, konsumsi pemerintah yang meningkat akibat Pemilu 2024, dan investasi yang diperkirakan terus tumbuh seiring masih berjalannya pembangunan beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN).
Hasil survei juga memberikan informasi, kondisi likuiditas perbankan pada 2024 diproyeksikan tetap memadai, ditunjang oleh prakiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap tumbuh positif, serta kebijakan moneter yang masih akomodatif dengan suku bunga acuan yang diperkirakan dapat sedikit menurun.
Selain itu, jika sesuai ekspektasi bahwa pemotongan suku bunga The Fed akan terjadi pada akhir triwulan II-2024, diperkirakan akan ada arus dana masuk (capital inflow) dari investor asing ke pasar domestik dengan berbagai instrumen keuangan.





