URBANCITY.CO.ID – Deru mesin sepeda motor masih membelah jalanan di kawasan Teluk, meski langit tak lagi ramah. Di tengah hujan rudal Iran yang menargetkan aset militer Amerika Serikat dan Israel, para pengemudi layanan pesan antar seperti Careem dan Uber tetap mengaspal. Sebuah kontradiksi tajam antara keselamatan nyawa dan tuntutan ekonomi di episentrum konflik.
Laporan Wired menyebutkan bahwa perusahaan aplikasi tetap mempekerjakan driver mereka di tengah peringatan serangan udara dan suara dentuman pencegat rudal (intercept) yang memekakkan telinga. Meski beberapa rute ditutup dan layanan melambat, operasional tidak sepenuhnya dihentikan.
Beberapa aplikasi di Uni Emirat Arab (UEA) sempat offline pada Sabtu, 28 Februari 2026, saat gelombang serangan pertama meluncur. Namun, pemadaman itu hanya sekejap. Perusahaan berdalih, keberadaan mereka krusial untuk menjaga akses masyarakat terhadap barang esensial.
“Kami akan mengevaluasi keamanan operasi kami secara bertahap dan real-time,” tulis pernyataan resmi Careem.
Baca Juga : Serangan Udara AS-Israel Hantam Sekolah Dasar di Iran, 51 Siswi Dilaporkan Tewas
Perusahaan tersebut mengklaim telah memberikan panduan melalui WhatsApp dan SMS, serta menekankan bahwa mitra tidak diwajibkan bekerja jika merasa terancam. “Kami telah menekankan kepada semua mitra kami bahwa pengemudi tidak diwajibkan untuk online jika mereka merasa khawatir melakukannya,” tambah mereka.
Senada dengan itu, juru bicara Uber mengonfirmasi layanan UberEats tetap beroperasi penuh. “Keselamatan dan kesejahteraan pengendara dan mitra pengemudi kami adalah prioritas utama kami; kami memantau situasi secara real-time,” kata perwakilan Uber.
Permintaan barang pokok seperti air, beras, pasta, dan obat-obatan justru melonjak tajam saat warga memilih berlindung di dalam rumah. Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyoroti fenomena ini sebagai bentuk pengakuan de facto terhadap pengemudi sebagai pekerja esensial, peran yang mulai mengakar sejak pandemi Covid-19.
Namun, status “esensial” ini menuai kritik pedas. Para pengamat menilai pengemudi menghadapi risiko fatal dari puing-puing rudal yang jatuh. Kementerian Pertahanan UEA melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 58 luka-luka sejak serangan dimulai akhir Februari lalu.
Realitas di lapangan jauh lebih kelam bagi para pekerja. Seorang pengemudi Deliveroo yang bekerja untuk agen logistik pihak ketiga mengaku tidak punya pilihan selain tetap bekerja.
“Jika saya menolak bekerja atau gagal memenuhi kuota harian, maka saya akan dikenakan denda oleh agen tersebut,” ujarnya secara anonim.
Sistem pengupahan yang berbasis jumlah pengantaran memaksa mereka tetap berada di zona bahaya demi insentif. Menolak pesanan berarti memangkas pendapatan secara langsung. Ironisnya, pengemudi ini mengaku belum menerima pedoman keselamatan resmi terkait ancaman drone dan rudal yang sedang berlangsung.
Konflik ini telah memicu insiden serius, termasuk kebakaran di Zona Industri Minyak Fujairah akibat jatuhnya puing drone. Meskipun otoritas setempat berhasil mengendalikan api tanpa korban jiwa, suasana mencekam tetap membayangi.
Di sisi lain, sektor transportasi mulai menunjukkan geliat terbatas. Al Jazeera melaporkan bahwa Bandara Internasional Dubai mulai membuka sejumlah jalur penerbangan secara terbatas per Senin, 2 Maret 2026. Maskapai Emirates juga memprioritaskan penumpang dengan pemesanan awal untuk jadwal keberangkatan yang telah dikonfirmasi.
Di tengah imbauan Kementerian Sumber Daya Manusia UEA agar sektor swasta bekerja dari rumah (WFH) hingga 3 Maret, para pengemudi ojek online tetap menjadi pengecualian yang dipaksa berani oleh keadaan.




