URBANCITY.CO.ID – Pemerintah Iran secara resmi membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi antara kedua negara. Melalui Kementerian Luar Negeri, Teheran menegaskan hingga saat ini belum ada pembicaraan resmi untuk mengakhiri eskalasi bersenjata yang melibatkan poros AS-Israel.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa meski sejumlah negara sahabat telah menyampaikan pesan dari Washington mengenai keinginan memulai dialog, pihak Iran belum memberikan respons formal.
“Posisi Teheran terkait Selat Hormuz, serta syarat-syarat mereka untuk mengakhiri perang, tetap tidak berubah,” ujar Baghaei, Senin, 23 Maret 2026.
Sebelumnya, pada hari yang sama, Presiden Donald Trump mengklaim telah memerintahkan penundaan serangan selama lima hari terhadap fasilitas energi Iran. Trump berdalih keputusan itu diambil setelah adanya percakapan “produktif” dengan seorang tokoh penting Iran guna meredakan tensi di Timur Tengah.
Baca Juga : Dunia Agresif Tekan Harga BBM Akibat Perang AS-Israel Vs Iran, Indonesia Masih Mengkaji
Laporan Reuters yang mengutip sumber pejabat Israel menyebutkan bahwa sosok yang dimaksud adalah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Keduanya bahkan dikabarkan bakal menggelar perundingan di Islamabad, Pakistan, dalam waktu dekat.
Namun, kabar tersebut segera ditepis oleh Ghalibaf. Melalui platform media sosial X, ia menegaskan bahwa “tidak ada negosiasi yang telah dilakukan” dengan pihak Washington.
Di parlemen Iran, suara penolakan terhadap diplomasi dengan AS juga menguat. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menilai upaya perundingan dalam situasi panas seperti sekarang tidak memiliki urgensi. Menurut Rezaei, perundingan dengan AS “tidak bermakna dalam kondisi saat ini.”
Ketegangan di kawasan mencapai titik didih sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran dan sekutu regionalnya yang menyasar aset-aset militer serta ekonomi AS-Israel di seantero Timur Tengah.
Hingga berita ini diturunkan, stabilitas di Selat Hormuz masih menjadi titik paling rawan bagi keamanan energi dunia, mengingat posisi tawar Teheran yang tetap teguh pada syarat-syarat penghentian perang yang mereka ajukan sejak awal konflik.



