URBANCITY.CO.ID – Di balik hamparan luas pohon sawit dan target produksi yang ketat, lingkungan perkebunan sering kali dipersepsikan sebagai ruang kerja yang kaku dan monoton.
Namun, di PTPN IV Regional III, Riau, realitas di lapangan justru menunjukkan sisi lain: sebuah miniatur keberagaman yang tumbuh organik melalui empati antarkaryawan.
Momen Tahun Baru Imlek menjadi cermin betapa nilai toleransi telah mengakar kuat di sana. Bukan melalui perayaan mewah, melainkan lewat pengakuan tulus para pekerja keturunan Tionghoa yang merasa diterima sepenuhnya tanpa diskriminasi.
Kesaksian dari Afdeling III
Akiong, seorang petugas panen di Afdeling III Kebun Lubuk Dalam, merupakan satu-satunya karyawan etnis Tionghoa di lingkungannya. Bukannya merasa terasing, ia justru mengaku bangga atas penerimaan rekan-rekannya yang mayoritas berbeda latar belakang.
Baca Juga: Produksi PKO PTPN IV Regional III Tembus 115 Ribu Ton, Digitalisasi Perkuat Tata Kelola
“Saya bangga bisa bekerja di sini. Walaupun saya satu-satunya etnis Tionghoa di Kebun Lubuk Dalam, saya tidak pernah merasa diperlakukan berbeda. Sejak awal bergabung, rekan-rekan menerima saya apa adanya,” ujar Akiong.
Ia berkisah bahwa toleransi di perkebunan muncul melalui tindakan kecil yang saling menjaga perasaan, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan atau hari besar keagamaan lainnya. “Kami saling menjaga perasaan. Itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa perlu diatur,” ucapnya.
Solidaritas di Tengah Perbedaan
Sentimen serupa dialami oleh Tony Lie, Asisten Tata Usaha di Kebun Kemitraan Tanah Putih, Rokan Hilir. Sebagai seorang mualaf keturunan Tionghoa, Tony memandang identitas ganda tersebut bukanlah hambatan dalam dunia profesional.




