“Saya Muslim dan saya Tionghoa. Itu bukan hal yang aneh. Saya menjalankan puasa, beribadah, dan tetap diterima sebagai bagian dari tim. Tidak ada jarak,” tutur Tony.
Baca Juga: Ekonomi Hijau: PTPN IV PalmCo Bangun 16 Pabrik CBG, Target Serap 1.600 Tenaga Kerja Baru
Bagi Tony, isu intoleransi sering kali hanyalah asumsi dari pihak luar yang tidak memahami dinamika lapangan. Di perkebunan, tanggung jawab pekerjaan dan solidaritas sesama buruh menjadi perekat yang lebih kuat daripada sekadar perbedaan etnis.
“Pada akhirnya, semua kembali kepada tanggung jawab. Pekerjaan harus selesai, administrasi harus rapi. Perbedaan tidak mengurangi solidaritas,” tegasnya.
Simbol Kebersamaan Sederhana
Meski perayaan Imlek di area perkebunan jauh dari keriuhan pusat kota, kehangatan tetap terjaga melalui tradisi berbagi kue keranjang di kantor. Gestur sederhana ini menjadi simbol bahwa kebun telah bertransformasi dari sekadar tempat mencari nafkah menjadi ruang kekeluargaan.
Harapan para pekerja pun seragam: kesehatan, stabilitas hidup, dan keberlanjutan perusahaan. Di tengah kerja keras dan kesederhanaan hidup di kebun, harmoni tidak memerlukan slogan besar; ia hidup dalam interaksi manusia yang saling menghargai setiap harinya. (*)






