URBANCITY.CO.ID – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan gertakan keras terhadap Teheran. Trump memberikan tenggat waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka total akses navigasi di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang kini tengah diblokade.
Melalui platform Truth Social, Trump mengancam akan meluncurkan serangan udara masif ke infrastruktur vital Iran jika permintaan tersebut diabaikan.
“Jika Iran tidak MEMBUKA SEPENUHNYA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM dari titik waktu ini, Amerika Serikat akan menyerang dan melenyapkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka,” tulis Trump pada Sabtu malam, 21 Maret 2026.
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, Iran menutup celah sempit di Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang dianggap musuh. Dampaknya sangat instan; harga minyak mentah dunia meroket hingga melampaui 100 dollar AS per barel lonjakan hampir 70 persen dalam setahun terakhir.
Baca Juga : Klaim Trump Soal Akhir Perang Iran: Benarkah Washington Telah Mencapai Targetnya?
Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global dari produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan UEA terjebak di balik blokade ini. Strategi Teheran tersebut bertujuan menghentikan aliran 21 juta barel minyak per hari ke pasar internasional sebagai alat tawar politik.
Gertakan Trump tidak menyurutkan nyali militer Iran. Tak lama setelah ultimatum keluar, Teheran langsung merespons dengan doktrin balasan setimpal. Juru bicara markas pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan target mereka mencakup instalasi desalinasi air dan infrastruktur TI milik AS dan Israel di kawasan tersebut.
Ali Larijani, mantan ketua Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, bahkan memberikan peringatan mengerikan. Ia mengklaim seluruh wilayah regional bisa mengalami pemadaman listrik total dalam waktu 30 menit jika jaringan listrik Iran berani disentuh.
Di tengah perang urat syaraf antara para pemimpin, situasi di lapangan semakin berdarah. Dalam 24 jam terakhir, rudal-rudal Iran dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel (Iron Dome).
Hantaman keras terjadi di kota Arad, yang menyebabkan sedikitnya 88 orang terluka, dengan 10 di antaranya kritis. Namun, serangan paling signifikan menyasar Dimona, lokasi strategis yang menaungi program nuklir Israel.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat mengklaim telah memberikan kerusakan berarti pada fasilitas militer Iran. Laksamana Brad Cooper dari Central Command menyatakan jet tempur AS telah menjatuhkan bom seberat 5.000 pon ke fasilitas penyimpanan rudal bawah tanah milik Iran.
Meski Trump gemar melontarkan ancaman eskalasi, para analis meragukan langkah tersebut akan efektif. Paolo Von Schirach dari Global Policy Institute menilai luas wilayah dan populasi Iran yang masif membuat paksaan militer menjadi sulit. Ia memperkirakan AS butuh setidaknya setengah juta tentara jika benar-benar berniat melakukan invasi darat atau menguasai wilayah Iran sepenuhnya.




