Baca Juga: Rayakan Keberagaman Budaya, Oreo Luncurkan Edisi Spesial
Stigma bahwa perempuan “pintar di karier tapi bodoh di cinta” dinilai Ratna sebagai upaya pelanggengan posisi lemah perempuan.
Padahal secara empiris, banyak perempuan yang memiliki tingkat pendidikan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki dan memiliki kapasitas pengambilan keputusan yang mumpuni.
Dampak Psikologis yang Mengintai
Jika stigma ini terus direproduksi, Ratna memperingatkan adanya konsekuensi mental yang serius bagi perempuan. “Ada dampak psikologis bagi perempuan yang terus-menerus distigma tidak cerdas dalam urusan memilih pasangan,” kata Ratna.
Beberapa dampak yang mungkin muncul antara lain:
- Krisis Kepercayaan Diri: Perempuan menjadi ragu mengambil keputusan dalam hubungan meski mereka sukses di bidang profesional.
- Rasa Tidak Aman (Insecure): Munculnya kecemasan bahwa mereka akan selalu membuat pilihan yang salah.
- Gangguan Kecemasan: Tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial agar terlihat “sempurna” di semua lini kehidupan.
- Hambatan Hubungan Sehat: Kesulitan membangun relasi yang setara karena merasa tidak cukup baik.
Baca Juga: Sophia Wattimena: Kartini Itu Anti Korupsi
Ratna menekankan bahwa lingkaran pembuktian diri ini justru bisa menjadi bumerang. Semakin perempuan merasa harus membuktikan diri di berbagai aspek, stereotip tersebut justru berisiko semakin menguat dan membatasi potensi mereka untuk berkembang secara utuh dalam kehidupan sosial maupun personal. (*)






