Empat unit pendidikan di bawah Kemenperin—Politeknik AKA Bogor, Politeknik APP Jakarta, Politeknik STMI Jakarta, dan SMK-SMAK Bogor—menjadi laboratorium awal.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng Startup, Akses Kerja Disabilitas di Industri Manufaktur
Masing-masing mengirim 50 siswanya untuk dibedah profil profesionalnya. Hasilnya? Rekomendasi jabatan yang presisi berdasarkan potensi individu, bukan sekadar ijazah.
Ambisi Global Tenaga Kerja Lokal
Direktur Utama PT Markija Berdaya Bersama, Csongor Hunyar, melihat kolaborasi ini sebagai fondasi ekosistem talenta yang lebih terstruktur.
“Ke depan kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi contoh baik di dalam penguatan pendidikan vokasi di Indonesia, khususnya di bawah naungan Kementerian Perindustrian,” tuturnya.
Senada dengan Hunyar, CEO Hungarian Practiwork Akos Zsuffa meyakini objektivitas adalah kunci daya saing. “Jika Indonesia ingin menciptakan tenaga kerja yang kompetitif, maka perubahan ke arah asesmen yang objektif dan berbasis data sangat diperlukan,” tegas Akos.
Bagi Sekretaris BPSDMI Sidik Herman, urusan ini bukan sekadar teknis, melainkan soal arah karier. Harapannya, unit pendidikan Kemenperin tak lagi “salah asuh” dalam mencetak lulusan.
“Dengan demikian, unit pendidikan BPSDMI Kemenperin tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki arah karir yang jelas dan berdaya saing tinggi di dunia industri,” pungkas Sidik. (*)






