Perlindungan Kekayaan Intelektual dan Kerja Tim
Senada dengan Irene, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mengingatkan bahwa kreativitas harus memiliki nilai bisnis yang kuat.
Baca Juga: Wamen Ekraf Irene Umar di Alif Raya Market 2026: Modest Fashion Lokal Siap Pimpin Pasar Global
Menurutnya, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (IP) adalah kunci agar pekerja seni bisa bertahan di pasar global.
“Kreativitas itu memang intangible value. Sekreatif apapun kita, kalau akhirnya tidak bisa bersaing di dunia bisnis, kita akan kalah. Oleh karena itu, kita harus selamatkan Intellectual Property (IP)-nya untuk dilindungi termasuk hak cipta dan royalti sehingga bisnis yang dikelola membuat roda ekonomi bisa berjalan,” tutur Raffi Ahmad.
Raffi juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi. Ia percaya bahwa keberhasilan industri kreatif bergantung pada kekuatan tim, bukan individu.
“Dalam dunia kreatif, tidak ada yang hebat karena satu orang. Tidak ada superman, yang ada ialah super team sebagai bentuk kolaborasi yang membuat kreativitas berkembang dan bertahan lama,” tegasnya.
Baca Juga: Wamen Ekraf Irene Umar: Bisnis Bukan Hanya Jual Produk, Tapi Bangun Narasi
Kreativitas dalam Keterbatasan
Sementara itu, musisi senior sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Ekraf, Yovie Widianto, berbagi pengalaman mengenai konsistensi berkarya selama lebih dari 40 tahun. Ia meyakini bahwa tantangan dan kemajuan teknologi adalah kawan bagi para seniman.
“Saya selalu percaya bahwa kreativitas itu datang dalam kondisi terbatas atau terdesak seperti seorang penulis yang mungkin dikejar deadline. Selain itu, saya juga berteman dengan kemajuan teknologi sehingga keniscayaan untuk bermusik semakin berkembang,” kata Yovie.






