URBANCITY.CO.ID – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien menghadapi ketidakpastian global dan eskalasi konflik geopolitik.
Juda memastikan pengelolaan APBN dilakukan secara prudent (hati-hati) dan fleksibel guna merespons dinamika pasar, terutama fluktuasi harga komoditas energi.
Dalam Rapimnas PB Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026, Juda memaparkan bahwa stabilitas fiskal tetap menjadi jangkar keamanan ekonomi nasional. Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan bantalan jika harga minyak dunia merangkak naik.
“Fundamental ekonomi kita masih kuat dan resilient. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, dan defisit fiskal masih di bawah batas yang ditetapkan undang-undang,” ujar Juda Agung.
Ketahanan Fiskal dan Rasio Utang
Baca Juga: Wamenkeu II: Program Makan Siang Gratis Jalan dan IKN Lanjut, Tak Ada yang Dinomorduakan
Juda menjelaskan bahwa APBN Indonesia sanggup mengantisipasi lonjakan harga minyak hingga level US$ 80-90 per barel tanpa melampaui batas defisit 3 persen. Berdasarkan data 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat stabil di angka 5,11 persen, bahkan menembus 5,39 persen pada triwulan IV.
Adapun defisit fiskal realisasi 2025 terjaga di angka 2,92 persen. Dari sisi beban utang, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 40 persen. Angka ini diklaim jauh lebih rendah dibandingkan batas maksimal 60 persen yang diatur Undang-Undang Keuangan Negara.




