Baca Juga: Bank Jakarta Siapkan 20 Bus Mudik Gratis 2026, Perkuat Sinergi BUMD DKI Layani Warga
Di Indonesia, praktik ini unik karena tidak hanya lewat lembaga resmi (amil), tetapi juga melalui jaringan kekerabatan. Banyak pemudik yang memilih menyalurkan zakatnya langsung kepada tetangga atau saudara di kampung.
Praktik ini membuktikan bahwa ekonomi masyarakat kita tidak semata diatur oleh “tangan gaib” pasar, melainkan digerakkan oleh etika keagamaan dan empati sosial.
Arsitektur Kesejahteraan Informal
Mudik juga mengubah identitas individu. Di kota, seseorang mungkin hanya dipandang sebagai unit pekerja atau konsumen dalam relasi kontraktual.
Namun saat pulang kampung, ia kembali menjadi anak, kakak, atau anggota komunitas dalam relasi yang emosional.
Baca Juga: AirNav Indonesia Fasilitasi 4.000 Tiket Mudik Kereta Api Gratis Lebaran 2026
Solidaritas ini membangun apa yang bisa disebut sebagai “arsitektur kesejahteraan” tambahan di luar sistem jaminan sosial negara (seperti subsidi atau bansos).
Saat seorang perantau membiayai sekolah keponakannya atau memberi modal bagi usaha kecil saudaranya, ia sedang menambal lubang-lubang kesejahteraan yang tidak terjangkau kebijakan fiskal pemerintah.
Melawan Logika Akumulasi
Memang, Lebaran tidak steril dari ekspansi pasar. Iklan diskon dan konsumsi berlebih tetap membayangi. Namun, konsumsi Lebaran memiliki karakter berbeda: sifatnya kolektif, bukan individualistik.
Orang membeli pakaian baru atau makanan mewah sering kali bukan untuk pamer gaya hidup, melainkan sebagai bagian dari ritual memuliakan tamu dan keluarga.






