URBANCITY.CO.ID – Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus menggali potensi inovasi di tengah upaya hilirisasi energi. Kali ini, mereka menjajaki kerja sama produksi garam dengan memanfaatkan air laut di Kilang Balikpapan.
Langkah strategis itu ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose pada Rabu, 28 Januari lalu.
MoU ini bukan sekadar kesepakatan bisnis. Ia menjadi bagian dari agenda nasional untuk menggantikan impor garam industri, yang saat ini mencapai 64 persen dari total kebutuhan Indonesia.
Dengan pabrik pemrosesan garam di Balikpapan berkapasitas 1.000 KTA, proyek ini diperkirakan mengurangi impor hingga USD 150 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun per tahun.
Baca Juga: Dukung Target NZE 2060, KPI Capai Pengurangan Emisi 450 Ribu Ton CO2eq pada 2025
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menyebut kolaborasi ini sebagai tonggak sejarah. “Kami sangat bangga dan mendukung kerja sama ini.
Ibarat mobil, kolaborasi antara KPI dan PT Garam adalah double gardan kemandirian. Tak hanya kemandirian energi yang menjadi domain Pertamina, tapi juga akan menciptakan pangan,” ujar Agung.
Agung menambahkan, proyek ini tak hanya soal ekonomi. Ia berpotensi menciptakan multiplier effect: pertumbuhan kawasan industri, lapangan kerja baru, dan posisi Indonesia sebagai pemain utama garam industri di Asia Tenggara.
Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyambut hangat rencana ini. Hilirisasi garam nasional akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari Kilang RDMP Balikpapan, yang ternyata potensial setelah survei lapangan.



