URBANCITY.CO.ID – Selebrasi narabahasa 2026, seni menjinakkan mesin dengan kata. Di sebuah sudut teduh Omah Martimbang, Jakarta Selatan, Sabtu, 7 Februari 2026, percakapan tentang masa depan kreativitas tidak lagi sekadar soal kuas atau kamera.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar duduk di tengah kerumunan komunitas literasi dalam acara Selebrasi Narabahasa (Senara) 2026, membawa pesan yang provokatif: di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keselamatan kreativitas justru terletak pada kemampuan kita berbahasa.
Irene memandang bahasa bukan sekadar alat komunikasi purba, melainkan kompas untuk menavigasi teknologi.
“Bahasa menjadi fondasi dari hubungan manusia dengan manusia lain, manusia dengan diri sendiri, dan di era sekarang, manusia dengan mesin. Semakin baik cara kita bertutur saat memberi instruksi kepada AI maupun manusia, semakin dekat hasilnya dengan tujuan yang kita inginkan,” ujar Irene.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Keamanan Siber sebagai Fondasi Ekonomi Kreatif Nasional
Dari Kata Menjadi Sinema
Logika ekonomi kreatif yang diusung Irene menempatkan teks sebagai hulu dari segala Kekayaan Intelektual (Intellectual Property).

Baginya, literasi adalah modal awal yang bisa bertransformasi menjadi berbagai bentuk konsumsi publik yang bernilai ekonomi tinggi. Tulisan tak lagi berakhir di kertas, tapi menjelma menjadi naskah dan aset visual.




