URBANCITY.CO.ID – Proaktif kejar peluang. ASEAN mulai menanggalkan jubah netralitas pasif demi strategi geokekonomi yang lebih agresif. Gugus tugas baru dibentuk untuk membidik potensi triliunan dolar.
Wajah diplomasi Asia Tenggara sedang bergeser. Di tengah kepungan tensi geopolitik yang kian mendidih, negara-negara di kawasan ini tak lagi sekadar ingin menjadi penonton yang pasif.
Isyarat perubahan haluan itu ditegaskan oleh Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam peluncuran Southeast Asia Futures Initiative Center (SEAFIC) di Jakarta, Selasa, 10 Februari lalu.
Roro menekankan bahwa ASEAN harus berani bersalin rupa: dari sekadar menjaga netralitas menjadi pemain proaktif yang sanggup menangkap peluang ekonomi. Salah satu bidak catur utamanya adalah pembentukan ASEAN Geoeconomics Task Force (AGTF) yang dijadwalkan meluncur pada April 2025 mendatang.
Baca Juga: Diplomasi Keranjang Belanja, Cara UMKM BISA Ekspor Menembus Sekat Pasar Global
“Indonesia bersama negara-negara di kawasan perlu saling menguatkan agar tetap bisa melihat peluang-peluang memajukan ASEAN di tengah tekanan global. Untuk itu, kami menyambut baik beberapa inisiatif yang lahir sebagai upaya ASEAN beradaptasi di situasi saat ini, seperti pembentukan ASEAN Geoeconomics Task Force (AGTF) pada April 2025,” ungkap Wamendag Roro.
Bukan sekadar wadah kumpul-kumpul para ahli, AGTF dirancang untuk memberikan masukan strategis bagi pembuat kebijakan. Mulai dari mengelola risiko ekonomi jangka pendek hingga mengejar ambisi tarif eksternal umum (common external tariff). Roro menyebut transisi ini sebagai langkah kolektif untuk memitigasi risiko global.




