URBANCITY.CO.ID – Menjelang datang Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Tatar Sunda, memiliki tradisi munggahan. Sebuah momentum berkumpul, makan bersama, dan berdoa sebelum memasuki bulan agung yang di dalamnya pahala dilipatgandakan.
Secara lahiriah, munggahan tampak sebagai seremoni budaya. Namun jika ditinjau dari perspektif pendidikan sosial-keagamaan, tradisi ini menyimpan nilai pembelajaran yang mendalam.
Dalam munggahan di Tatar Sunda misalnya, ada praktik ngaliwet bersama, memasak nasi dalam satu kastrol besar yang dikerjakan secara gotong royong. Dalam tradisi ini, terjadi proses pendidikan kolaboratif.
Setiap orang mengambil peran: menyiapkan bahan, menyalakan api, menata hidangan. Tanpa disadari, nilai kerja sama, tanggung jawab, dan solidaritas sosial ditanamkan secara alamiah.
Fenomena ini selaras dengan teori Konstruktivisme Sosial yang dikembangkan Lev Vygotsky (1978). Teori ini menegaskan bahwa pembelajaran berlangsung melalui interaksi sosial.
Baca Juga: Menanti Hilal di Langit Nusantara: Sidang Isbat dan Kepastian Awal Ramadhan 1447 H
Nilai tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi dibangun melalui pengalaman kolektif. Tradisi munggahan menjadi ruang belajar sosial yang konkret dan kontekstual.
Dalam perspektif pendidikan nasional, gagasan Ki Hajar Dewantara (1936) tentang pendidikan berbasis kebudayaan menemukan relevansinya.
Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar tumbuh dalam lingkungan sosial dan budayanya. Tradisi seperti munggahan memperlihatkan bagaimana kebudayaan menjadi medium efektif pembentukan karakter.




