URBANCITY.CO.ID – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus mempertegas posisinya sebagai Agent of Development melalui penguatan strategi keuangan berkelanjutan.
Bank pelat merah ini mengintegrasikan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST/ESG) ke dalam kebijakan jangka panjang guna mendukung transisi nasional menuju ekonomi hijau.
Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menjelaskan bahwa perseroan berkomitmen menjaga keseimbangan antara performa bisnis dengan kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.
Langkah ini diwujudkan melalui penyaluran pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial yang mengacu pada standar internasional.
Baca Juga: Kinerja BNI Kuartal I 2026: Laba Bersih Rp5,6 Triliun, Kredit Tumbuh 20 Persen Lewat Strategi BRAVE
“BNI berkomitmen untuk terus memperluas pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau,” ujar David dalam keterangan resminya, Rabu, 29 April 2026.
Instrumen Pendanaan Hijau
Keseriusan BNI dalam agenda keberlanjutan tecermin dari rekam jejak penerbitan instrumen pendanaan. Pada 2025, BNI merilis Sustainability Bond senilai Rp5 triliun dengan peringkat tertinggi “idAAA”. Aksi ini menyusul kesuksesan Green Bond senilai Rp5 triliun yang diterbitkan pada 2021 silam.
Dana dari instrumen tersebut dialokasikan secara spesifik untuk membiayai proyek-proyek yang selaras dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
Dengan memanfaatkan TKBI, BNI dapat lebih presisi dalam mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang memberikan dampak positif bagi ekosistem lingkungan.




