URBANCITY.CO.ID – Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh kekhawatiran mengenai privasi data pada layanan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Muncul dugaan bahwa foto pribadi yang diunggah pengguna untuk keperluan penyuntingan dapat disimpan dan digunakan kembali oleh sistem AI untuk memanipulasi gambar orang lain.
Kegaduhan ini bermula dari unggahan akun X @li********* pada Rabu, 6 Mei 2026, yang memperingatkan potensi penyalahgunaan tersebut. Ia mengunggah hasil editan AI yang menampilkan sosok laki-laki yang diduga merupakan hasil “ingatan” AI dari foto pengguna lain.
“Damn AI is scary. Guys yang pake AI buat ngedit foto kalian kayaknya harus warning deh. Hati-hati kalau mau ngedit di AI takut foto kalian kesimpen dan akhirnya dipakai AI buat edit di foto orang lain,” tulis akun tersebut.
Klaim tersebut menguat setelah seorang warganet mengaku mengenali sosok dalam foto tersebut sebagai dirinya. Sang warganet menyebut pernah menggunakan layanan Gemini dan menduga foto miliknya tersimpan dalam memori sistem.
Baca Juga : Jaga Infrastruktur Energi, Pertagas Perkuat Budaya Keselamatan Kerja Lewat Standar WISCA
Mekanisme Kerja Dataset AI
Menanggapi fenomena yang viral tersebut, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya memberikan klarifikasi mengenai mekanisme kerja AI. Menurutnya, anggapan bahwa AI mengambil foto satu orang untuk ditempelkan langsung ke foto orang lain secara harfiah adalah kurang tepat dan cenderung membingungkan.
“Klaim foto yang diupload lalu digunakan untuk mengedit foto lain malah membingungkan. Malah lebih sulit menjalankan klaim tersebut dari kerja AI mengolah gambar,” ujar Alfons saat dihubungi, Jumat, 8 Mei 2026.
Alfons menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mempelajari pola (pattern) dari miliaran data yang dikumpulkan dari internet publik, termasuk media sosial dan situs web, melalui proses scraping. Data tersebut digunakan sebagai bahan pelatihan (training dataset), bukan sebagai bank gambar untuk dicontek mentah-mentah secara visual.
“Bukan gambarnya yang diambil secara harfiah tetapi semua gambar yang ada dijadikan sebagai sumber informasi untuk training AI sebagai pijakan untuk mengolah gambar. Jadi bukan plek ketiplek diambil untuk dicontek,” tegasnya.




