URBANCITY.co.id – Desa Cinagara di kaki Gunung Gede Pangrango menyimpan identitas ekonomi kerakyatan yang membanggakan melalui Kopi Cibeling. Produk khas lokal ini tumbuh dari potensi alam desa yang dikelola secara mandiri oleh para petani penggarap sebagai wujud kemandirian masyarakat perdesaan.
Perjalanan komoditas ini mulanya diuji oleh masa-masa krisis pada periode 2019–2021, tatkala harga kopi anjlok drastis dan hasil panen warga terbengkalai akibat ulah tengkulak yang merugikan. Situasi sulit tersebut menuntut adanya perubahan besar dalam sistem tata niaga pertanian di tingkat lokal agar para petani tidak terus-menerus merugi.
Baca Juga: FISEB UIC dan Wisata Alam Pangrango Resmi Tandatangani MoU Jelang Penutupan KKN
Merespons tantangan tersebut, inisiatif bersama dibentuk pada tahun 2022 melalui pendirian koperasi dan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk menyelamatkan hasil panen dan menetapkan harga jual yang adil. Di samping itu, kualitas produk mulai digenjot melalui standar proporsional 30% pascapanen, 30% green bean, 30% roasting, hingga 10% penyajian yang fleksibel sesuai kebutuhan spesifik vendor mitra.

Kebangkitan ekonomi ini semakin mendapat angin segar berkat sinergi dan intervensi dari berbagai lembaga pembangunan, seperti SNV, Dompet Dhuafa, serta Proyek PAHALA. Dukungan berupa bantuan mesin dan pendanaan tersebut berhasil memperluas jalur distribusi komoditas kopi lokal ini hingga menembus pasar regional Jabodetabek.



