URBANCITY.CO.ID – Rencana pembangunan kawasan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, menuai sorotan pakar lingkungan dan siber. BDx Data Centers merancang fasilitas bernama AI Campus 2 (CGK4) ini dengan kapasitas raksasa hingga 640 megawatt (MW).
Perusahaan telah meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek pada Senin, 21 September 2026. Namun, letak lokasi yang hanya berjarak lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur memicu kekhawatiran warga lokal. Masyarakat mencemaskan ancaman kekeringan air tanah dan defisit pasokan listrik.
Ancaman Konsumsi Air dan Listrik Berlebih
Pakar siber sekaligus Wakil Ketua Umum 2 Cyber Security APTIKNAS, Alfons Tanujaya, membeberkan dua konsekuensi ekologis besar di balik operasional peladen AI raksasa tersebut.
“Yang pertama, konsumsi air untuk pendinginan yang luar biasa. Yang kedua, konsumsi listrik untuk proses data center,” kata Alfons, Selasa, 29 September 2026.
Baca Juga : BTN Housingpreneur Batch 3: Mengubah Ide Hunian Gen Z Jadi Peluang Bisnis Properti Bernilai Tinggi
Pengelola memproyeksikan kapasitas tahap awal fasilitas mencapai 100 MW sebelum akhirnya melesat ke level 600 MW hingga 640 MW. Operasional tahap pertama ini bahkan langsung menguras habis seluruh daya hasil Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatiluhur.
“Kalau 100 MW khusus hasil listrik Jatiluhur saja untuk data center itu sudah habis dan harus pakai sumber listrik dari pembangkit listrik di area lain,” ujarnya.
Kondisi tersebut memaksa pengembang menyedot pasokan daya dari luar daerah saat proyek berjalan penuh. “Jadi, kalau di jangka panjangnya 600 MW data center ini sudah jalan, itu akan tarik listrik dari area lain jaringan PLN di Jawa-Bali,” kata dia.
Selain pasokan listrik, sistem pendingin server menyerap debit air dalam volume sangat besar jika menerapkan teknologi konvensional. “Kalau untuk masalah air, kalau data center AI yang teknologi awal ya, yang konvensional, itu memang menyedot air dengan luar biasa,” ujar Alfons.
Volume pemakaian air pendingin tersebut bahkan menyamai kebutuhan warga di satu kawasan urban. “Kalau pakai pendinginan konvensional. Itu bisa sampai satu kota kecil kebutuhan airnya,” kata Alfons merujuk krisis serupa di Amerika Serikat.




