URBANCITY.CO.ID — Mobilitas udara kini menggerakkan roda ekonomi dan gaya hidup masyarakat perkotaan dengan intensitas penerbangan yang terus melonjak tinggi.
Di balik kelancaran perjalanan bisnis, liburan akhir pekan, serta ekspansi logistik bernilai triliun rupiah, para pemandu lalu lintas udara bekerja tanpa henti menjaga langit nusantara.
Tepat pada 29 September 2026, AirNav Indonesia menggelar peringatan Hari Bakti Air Traffic Controller (ATC) guna menghormati jasa Anthonius Gunawan Agung sekaligus mempertegas komitmen keselamatan ruang udara nasional.
Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno menegaskan bahwa industri aviasi menempatkan keselamatan sebagai fondasi utama kepercayaan publik dan daya tarik investasi transportasi modern.
Baca Juga: AirNav dan Airbus Pacu Efisiensi Langit Indonesia, Buka Peluang Investasi
“Apa yang dilakukan almarhum Anthonius merupakan bagian dari sejarah pelayanan navigasi penerbangan Indonesia. Pengabdian beliau mengingatkan kita bahwa profesi ATC memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan penerbangan. Nilai itulah yang harus terus kita jaga dan diteruskan,” ungkap Avirianto melalui keterangan resmi AirNav Indonesia, Selasa (29/9/2026).
Konektivitas Udara Amankan Pertumbuhan Investasi dan Bisnis Modern
Pengelolaan ruang udara berstandar global secara langsung melindungi aset maskapai, infrastruktur bandara, serta kepercayaan para pelaku pasar yang mengandalkan kecepatan rute udara.
Melalui tema “Mengenang Pengabdian, Melanjutkan Dedikasi”, AirNav mentransformasikan penghormatan masa lalu menjadi dorongan nyata untuk memodernisasi layanan navigasi.
Baca Juga: Proteksi Mobilitas Urban: AirNav Perpanjang Penutupan Bandara Wunopito Akibat Erupsi
Kesiapan navigasi yang presisi menghindarkan ekosistem transportasi dari kerugian operasional masif akibat gangguan penerbangan.
Pemerintah turut mengapresiasi dedikasi luar biasa tersebut melalui Kementerian Perhubungan dengan menganugerahkan tanda kehormatan Adikarya Dirgantara Pralabda kepada almarhum Anthonius.
Penghargaan resmi ini mencerminkan pengakuan negara terhadap peran vital pemandu navigasi dalam menjaga kelangsungan transportasi udara nasional.
Penghormatan tersebut semakin kokoh saat almarhum beristirahat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Makassar, tempat jajaran AirNav melaksanakan ziarah dan tabur bunga tahun ini.
Baca Juga: AirNav dan Boeing Pacu Kapasitas Bandara Ngurah Rai Demi Mobilitas Urban Bali
Dedikasi Anthonius Buktikan Komitmen Nyata Keselamatan Penumpang
Publik mengenang keberanian Anthonius saat bertugas di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu, pada 28 September 2018 silam ketika gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah tersebut.
Anthonius memilih bertahan di menara kendali demi mengarahkan Batik Air ID 6231 tujuan Makassar hingga lepas landas secara sempurna.
Setelah menuntaskan tanggung jawab keselamatan ratusan penumpang, ia berupaya keluar dari menara yang runtuh hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 29 September 2018.
Baca Juga: AirNav Dorong Kesetaraan Gender di DGCA 61, Cetak Talenta Aviasi Berkelanjutan
Bagi kalangan urban yang memprioritaskan keamanan perjalanan, dedikasi tersebut membuktikan bahwa integritas operasional merupakan nilai mutlak yang tak tergantikan.
Standar tinggi ini mendorong AirNav Indonesia untuk terus menyuntikkan efisiensi, pelatihan personel, dan teknologi terkini ke dalam setiap lini operasional harian.
AirNav Terus Genjot Kualitas Ruang Udara Bagi Mobilitas Urban
Manajemen AirNav memanfaatkan momentum Hari Bakti ATC 2026 untuk mengonversi nilai pengabdian menjadi peningkatan disiplin dan penguatan kapabilitas teknis di seluruh menara pengawas.
Baca Juga: AirNav Kerahkan Relawan BUMN: Dorong Potensi Desa Boyolali
Langkah terukur ini memberi kepastian jadwal dan rasa aman optimal bagi para eksekutif serta komuter udara yang melintasi berbagai kota metropolitan.
“Tugas kita hari ini adalah melanjutkan nilai-nilai dalam pengabdian almarhum Anthonius. Kita terus memperkuat kompetensi, profesionalisme, dan kualitas pelayanan agar keselamatan penerbangan tetap terjaga di seluruh ruang udara Indonesia,” katanya.
Upaya berkelanjutan ini memastikan ruang udara Indonesia tetap kompetitif, tangguh menghadapi risiko bencana, dan mampu menopang gaya hidup dinamis masyarakat modern secara konsisten.




