URBANCITY.CO.ID – Batik kini bertransformasi melampaui sekat busana seremonial menjadi simbol identitas modern sekaligus instrumen ekonomi bernilai investasi tinggi bagi masyarakat urban.
Bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menggerakkan ekosistem kriya lokal agar memiliki daya saing komersial yang solid.
Integrasi tradisi ke dalam ritme profesional kota metropolitan memperlihatkan cara warisan budaya menopang rantai pasok ekonomi kreatif berkelanjutan.
Tren Busana Kerja dan Gaya Hidup Profesional UrbanÂ
Baca Juga:Â Hari Batik Nasional, BNI Dukung Pagelaran Istana Berbatik
Manajemen BNI mewajibkan seluruh insan perseroan mengenakan busana batik dua kali dalam sepekan di lingkungan kerja.
Kebijakan dress code ini membuktikan konsistensi perseroan dalam memadukan estetika nusantara ke dalam gaya hidup dinamis kaum urban.
Langkah praktis tersebut sekaligus memperbesar serapan pasar busana kerja premium berbasis wastra nusantara secara langsung.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, batik tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak perajin dan pelaku UMKM.
Baca Juga:Â Pacu IKM Raih Sertifikat Halal, Kemenperin Dukung Batik Haji Nasional
“Bagi BNI, batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak perajin dan pelaku UMKM. Karena itu, pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas usaha, perluasan pasar, dan keberlanjutan para pelakunya,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.
Mengakselerasi Investasi dan Daya Saing UMKM KriyaÂ
Perseroan terus membuka akses pasar yang luas dan bernilai tambah melalui kurasi pameran bergengsi berskala nasional.
Keterlibatan BNI dalam ajang Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta pada Juli lalu membuktikan keberpihakan nyata terhadap perluasan skala bisnis mitra binaan.
Baca Juga:Â Transformasi Batik Urban: Dari Simbol Budaya Jadi Peluang Investasi Fesyen
Partisipasi semacam ini menciptakan eksposur strategis bagi para investor dan konsumen urban kelas atas terhadap karya kriya berkualitas ekspor.
BNI juga menyalurkan pendampingan teknis intensif serta fasilitas pembiayaan berkelanjutan demi mendongkrak kapasitas produksi para perajin daerah.
Pelatihan mencakup standardisasi produk hijau, manajemen finansial modern, hingga digitalisasi pemasaran agar produk lokal mampu menembus rantai pasok global.
“Pelestarian budaya tidak berhenti pada menjaga warisan yang sudah ada, tetapi juga bagaimana memastikan para pelaku di dalamnya dapat terus berkembang. Karena itu, kami berupaya menghubungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan UMKM, pengembangan produk, dan perluasan pasar,” kata Okki.
Baca Juga:Â Pangkas Biaya Produksi IKM Batik demi Gulung Tekstil Impor Printing
Membangun Rantai Pasok Berkelanjutan Bersama DanantaraÂ
Sebagai entitas BUMN di bawah naungan ekosistem Danantara Indonesia, BNI menempatkan industri kreatif berbasis tradisi sebagai pilar produktif strategis.
Integrasi ini memberi suntikan modal sosial dan finansial bagi para pelaku usaha untuk bertransformasi menjadi korporasi kriya berdaya tahan tinggi.
Sejalan dengan perjalanan delapan dekade dan semangat Swadharma Bhakti Nagara, perseroan menjaga kesinambungan ekosistem batik dari hulu hingga ke hilir.
Baca Juga:Â Rayakan Hari Batik Nasional 2025: Tips Pilih Batik yang Pas Buat Acara!
BNI memastikan para perajin daerah meraih benefit ekonomi nyata sambil memperkuat kebanggaan generasi urban memakai karya otentik Indonesia.




