URBANCITY.CO.ID – Masyarakat urban kini memandang kriya lokal bukan lagi sekadar suvenir etnik biasa, melainkan portofolio gaya hidup berkelas sekaligus instrumen koleksi bernilai tinggi.
Sentuhan material alami dan presisi ketelitian tangan para artisan Nusantara menghadirkan kemewahan autentik bagi interior modern.
Fenomena ini tercermin nyata dari kinerja ekspor industri kerajinan nasional yang menembus angka USD 223,1 juta pada triwulan II 2026, mencatatkan lonjakan fantastis 28,59 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kementerian Perindustrian secara agresif mengakselerasi ekspansi pasar dan daya saing industri kecil menengah (IKM) melalui modernisasi desain, penguatan kualitas material, serta pembukaan akses pameran premium.
Baca Juga: IKM Koto Batu Raih Penghargaan Internasional di Hong Kong, Kemenperin Pacu Ekspor Kriya
Kolaborasi ini membuktikan bahwa produk berbasis budaya menyimpan daya pikat modal yang sangat menjanjikan di panggung internasional.
“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia. Pemerintah terus mendorong potensi tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu diterima pasar nasional maupun internasional,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/10).
Peluang Cuan Ekspor dan Tren Hunian Estetik
Pasar global membaca nilai kelangkaan dan narasi autentik produk kriya Indonesia sebagai komoditas prestisius.
Baca Juga: Kemenekraf Pacu Ekspor, Persiapkan 20 Jenama Kriya Unggulan di ASIK Kriya
Merujuk data Trade Map semester I 2026, pasar Amerika Serikat menyerap pangsa terbesar hingga 28 persen, disusul kekuatan ekonomi Taiwan, Tiongkok, Jepang, hingga Belanda.
Ragam produk unggulan seperti anyaman rotan geometris, dekorasi kayu ukir minimalis, perabot bambu organik, serta keramik kontemporer sukses merebut hati para kurator gaya hidup di Eropa dan Asia Pasifik.
Momentum pertumbuhan ini mendorong Ditjen IKMA menghadirkan etalase bergengsi melalui partisipasi di Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 yang berlangsung pada 26–30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, ajang ini menjadi titik temu strategis antara kurator, kolektor urban, dan para perajin andalan Nusantara.
Baca Juga: Program CBI Kemenperin Pacu Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya
“Melalui kegiatan ini, para perajin dan pelaku IKM memperoleh ruang untuk menampilkan karya terbaiknya, memperluas jejaring usaha, sekaligus memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap produk yang dihasilkan,” ungkap Reni.
Gaya Hidup Berkelanjutan dan Sentuhan Digital
Evolusi selera kaum urban kini menuntut produk yang menyatukan fungsi, elegansi visual, serta komitmen etis terhadap lingkungan.
Hanya dalam kurun lima hari gelaran Kriyanusa 2026, delapan IKM binaan Ditjen IKMA berhasil mengantongi total transaksi langsung senilai Rp313 juta dari penjualan koleksi fesyen, tenun, dan aksesori artisan.
Baca Juga: IKM Kriya Indonesia Bidik Buyer Global di Home InStyle 2026 Hong Kong: Ekspor Tumbuh 15 Persen
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk IKM kerajinan nasional memiliki daya tarik dan peluang pasar yang kuat. Karena itu, kami mendorong pelaku IKM tidak hanya mempertahankan kekuatan pada nilai budaya dan keterampilan perajin, tetapi juga terus meningkatkan desain, kualitas, inovasi, serta kemasan agar mampu menjawab kebutuhan dan perubahan tren pasar,” tutur Reni.
Menanggapi pergeseran preferensi konsumen perkotaan, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan menegaskan pentingnya adaptasi desain ramah lingkungan yang selaras dengan arsitektur dan gaya hidup modern.
“Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan yang ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus terus kreatif dan mampu membaca tren pasar,” ujar Budi.
Ajang Kriyanusa 2026 menghadirkan 257 peserta dengan 410 stan yang menyajikan eksplorasi material dari kayu, kulit, wastra tenun, hingga daur ulang inovatif.
Baca Juga: Kriya Nusantara Expo 2026: Menteri Maruarar Sirait Janjikan Bantuan DP Rumah untuk 100 Pelaku UMKM
Pengunjung urban juga menikmati pengalaman visual imersif lewat atraksi digital seperti Wastra Holo, Fashion DNA, dan lokakarya membatik digital yang mempertemukan tradisi masa lalu dengan masa depan.
“Keragaman tersebut memperlihatkan kekayaan material, keterampilan, serta pengetahuan tradisional yang berkembang di berbagai daerah Indonesia. Potensi ini perlu terus diperkuat dengan inovasi agar menghasilkan produk yang memiliki daya saing semakin tinggi,” imbuhnya.
Sinergi Ekosistem untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Ke depan, Kemenperin memantapkan kolaborasi pentahelix lintas sektor untuk menjaga relevansi kriya Indonesia agar terus memimpin pasar komersial dan menyuntikkan nilai ekonomi riil bagi para artisan daerah.
Baca Juga: Bidik Pasar Global: Kemenperin Pacu Literasi Bisnis IKM Kriya dan Fesyen
“Kolaborasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus mendorong lahirnya produk kerajinan yang semakin inovatif, berkualitas, bernilai tambah, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” pungkas Budi.




