URBANCITY.CO.ID – Produk kreatif bernilai tambah tinggi kini bukan sekadar pelengkap gaya hidup urban, melainkan portofolio investasi riil yang menggerakkan roda ekonomi nasional.
Menangkap momentum tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengakselerasi 46 jenama lokal binaan untuk menguasai pasar internasional dan mengamankan kontrak dagang jangka panjang.
Langkah ekspansif ini terealisasi melalui partisipasi strategis dalam pameran dagang terbesar, Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menegaskan fokus pemerintah dalam mencetak transaksi bisnis berdaya tahan tinggi.
Baca Juga: Trade Expo Indonesia 2026: Strategi Bisnis UMKM dan Industri Lokal Menembus Pasar Ekspor Global
“Target kita bukan sekadar memperkenalkan produk kreatif Indonesia ke pasar global, tetapi memastikan produk tersebut mampu menghasilkan transaksi ekspor yang berkelanjutan. Melalui program ASIK dan Partisipasi Trade Expo Indonesia 2026 yang merupakan salah satu langkah strategis dalam memperkuat kesiapan ekspor, membuka akses ke pembeli internasional, serta mendorong jenama lokal tumbuh menjadi pemain global,” ujar Teuku Riefky Harsya, Selasa (13/10).
Pameran dagang edisi ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang ini menghadirkan sinergi solid antara Kementerian Ekraf dan Kementerian Perdagangan.
Kolaborasi terpadu tersebut membuka gerbang eksklusif bagi pelaku usaha kreatif untuk berinteraksi langsung dengan para agregator dan investor mancanegara.
Peluang Cuan Ekspor Produk Fesyen dan Kriya
Baca Juga: Tembus Pasar Ekspor Global, IKM Kerajinan Tampilkan Inovasi di Inacraft 2025
Pasar internasional terus menunjukkan selera konsumsi yang masif terhadap kreasi otentik berkonsep sustainable lifestyle.
Berdasarkan olahan data BPS oleh Kementerian Ekraf per Januari–April 2026, Amerika Serikat menyerap produk ekonomi kreatif nasional senilai USD3,31 miliar.
Komoditas fesyen memimpin perolehan devisa tersebut dengan nilai USD2,80 miliar, lalu subsektor kriya menyusul sebesar USD480 juta dan kuliner mencapai USD15,55 juta.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, memaparkan nilai komersial di balik kekayaan budaya Nusantara.
Baca Juga: Peluang Cuan Ekspor IKM: Kemenperin Pacu Sektor Menengah Naik Kelas ke Pasar Global
“Keikutsertaan Kementerian Ekraf dalam Trade Expo Indonesia merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membawa produk ekonomi kreatif Indonesia lebih dekat dengan pasar global. Kita ingin memastikan bahwa kreativitas dan kekayaan budaya Indonesia dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi melalui perluasan akses pasar, peningkatan jejaring bisnis, dan peluang ekspor,” ujar Yuke Sri Rahayu.
Potensi Investasi Kuliner Nusantara di Pasar Dunia
Selain fesyen dan kriya, sektor makanan olahan siap saji dan rempah premium kian memikat masyarakat urban global yang mengutamakan cita rasa autentik dan kepraktisan.
Mengacu pada data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke pasar dunia sukses menembus kisaran USD59,04 miliar pada 2025.
Baca Juga: Wamendag Ajak Generasi Muda Cakap Digital Buat Menangkap Peluang Ekspor ke Pasar Global
Cerita budaya (storytelling) yang kuat serta keunikan bahan baku lokal menjadi nilai jual utama yang mendongkrak margin keuntungan produk kuliner di panggung internasional.
Negeri Paman Sam tercatat sebagai destinasi ekspor pangan terbesar kedua bagi produk Indonesia setelah Tiongkok.
Nilai ekspor pangan ke Amerika Serikat melesat 14,06 persen pada 2025 menjadi USD5,97 miliar dibanding capaian 2024 yang sebesar USD5,23 miliar. Transaksi ini menguasai porsi 10,1 persen dari total pengapalan pangan Indonesia ke ranah global.
Akselerasi ASIK Menembus Rantai Pasok Global
Baca Juga: Kemendag: Trade Expo Indonesia 2024 Peluang Perluas Ekspor ke Pasar Global
Kementerian Ekraf mendirikan tiga paviliun representatif di TEI 2026 untuk memajang kurasi produk unggulan dari 46 jenama terpilih.
Subsektor kriya menghadirkan 18 jenama berkarakter kuat, antara lain Kampung Kaleng, M.A.R.S Genuine Leather, Ketak Nusantara, Kampoeng Anyaman, Passion of Art Indonesia (POAI), Aulian Toys, Danrizco, Decak Handmade, Kotak Hias, Kriyamic, Lusee, Kriya Kite Indonesia, Djoen Leather, Boolet, Cabaco Leatherworks, Kalanata, Ride One Gallery, dan Foxandbunny.
Subsektor kuliner menampilkan 16 jenama inovatif, mencakup Pigela Chips, KINGKAF, Madu NP, Moonbitz Inovasi Adikarya, Mustofaibuemi, L’GRAZ, Haviera Foodies, Munch Mingle, Ramantha Kitchen, Qisbelin, Rendang Jambi by Cahaya Minang, Natural Bali Kulkul, Sambal Sijago, Pempek Cek Molek, Restu Mande, serta Wizz dan Pondok Cabe.
Adapun subsektor fesyen mengusung 12 jenama modern, yaitu MYCL, Wearlori, Kayana By Tyaoza, BIGBOYLOOKSGOOD, SHAZA By Adelina, KAYO, Batik dan Tenun Rolla, CV Kupu Sutera, Wening’s Line, Bina Bordir, Twiko, dan Northy.
Baca Juga: Indonesia Perkuat Posisi Pusat Grinding Kakao Global, Ekspor Tembus US$ 3,4 Miliar
Seluruh jenama ini menyerap kurasi intensif program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK). Subsektor kriya dan kuliner berasal dari ASIK batch 2 dan batch 3, sementara pelaku fesyen merupakan alumnus ASIK batch 1 dan batch 2.
Program inkubasi ini secara khusus mengasah kesiapan operasional, efisiensi rantai pasok, dan kapasitas produksi jenama agar sesuai dengan standar ketat pembeli korporasi internasional.
Sinergi lintas otoritas di TEI 2026 sekaligus memperkokoh ekosistem pembiayaan, logistik, dan perizinan ekspor nasional.
Melalui fasilitas promosi terintegrasi ini, Kementerian Ekraf memproyeksikan para pelaku usaha lokal mampu mengubah potensi estetika menjadi arus kas yang stabil serta menciptakan valuasi bisnis yang berkelanjutan.




