URBANCITY.CO.ID – Orang tua modern di kawasan perkotaan kini memandang kesenian tradisional sebagai instrumen berharga dalam mengasah kecerdasan emosional serta kepemimpinan anak.
Gelaran Grand Final Festival Dalang Anak (FDA) ke-19 di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta membuktikan bahwa seni pedalangan mampu memikat generasi digital di tengah gempuran tren pop global.
Kementerian Kebudayaan menaruh perhatian penuh pada pembinaan dalang cilik sebagai aset strategis untuk mempertahankan daya saing budaya nasional sekaligus memperkaya industri pertunjukan masa depan.
Regenerasi Dalang Cilik Sebagai Katalis Ketahanan Karakter Bangsa
Baca Juga: Ini Dia 10 Event Teratas Karisma Event Nusantara 2025 Versi Kemeterian Pariwisata RI
Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) menjaring 29 dalang muda berbakat usia 8–14 tahun dari 22 provinsi melalui seleksi ketat di 516 kabupaten/kota.
Penyelenggaraan kompetisi ini mencetak bibit unggul yang menguasai seni tutur, filosofi moral, serta musikalitas gamelan sejak usia belia.
“Dalang adalah pusat pengendali dari pementasan wayang. Penting agar anak-anak mengenal dan melanjutkan tradisi pedalangan, menjaga ilmu pengetahuan dan kearifan dalam lakon pewayangan sebagai refleksi kehidupan, sekaligus mengembangkan seni pewayangan dengan inovasi dan kreativitas agar terus hidup di tengah perubahan zaman. Ini merupakan upaya yang sangat baik dalam pewarisan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia,” ungkap Menbud.
Pemerintah menempatkan wayang—yang menyandang predikat warisan dunia UNESCO sejak 2003—bukan sekadar artefak masa lampau, melainkan media literasi nilai bagi keluarga urban.




