URBANCITY.CO.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) resmi menetapkan Kabupaten Bantul dan Kota Padang sebagai wakil Indonesia menuju panggung UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027.
Penetapan strategis ini menempatkan Bantul pada subsektor Crafts and Folk Art serta Padang pada subsektor Gastronomy.
Langkah global tersebut membuka gerbang investasi baru sekaligus memperluas pasar produk gaya hidup urban berbasis kriya ramah lingkungan dan kekayaan kuliner Nusantara.
Penetapan bergengsi ini lahir melalui kurasi ketat Seleksi Nasional Pengusulan Nominasi Anggota UCCN 2027, mulai dari audit administratif hingga pembuktian berkas dossier di hadapan tim pakar independen.
Baca Juga: Menpar Widiyanti Tinjau Raja Ampat, Pastikan Kesiapan Revalidasi UNESCO Global Geopark
Panselnas menyaring keunggulan ekonomi riil kedua wilayah agar mampu bersaing memikat investor mancanegara dan pelancong global. Pengakuan dunia ini berfungsi mengerek daya tawar brand lokal ke level internasional.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa pencalonan ini bukan sekadar mengejar pengakuan internasional, melainkan strategi memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah guna memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Kementerian Ekraf ingin terus mendampingi sehingga tidak berhenti sebatas nominasi. Ini harus mempunyai dampak ekonomi, termasuk dalam membuka lapangan kerja dan meningkatkan kontribusi terhadap PDRB daerah. Sebab kumpulan dari PDRB daerah akan menjadi PDB nasional,” ujar Menteri Ekraf.
Menteri Ekraf memastikan pendampingan menyeluruh mencakup penyempurnaan dokumen teknis, penguatan kampanye media, hingga lobi diplomatik lintas negara bersama Kementerian Luar Negeri.
Baca Juga: Widiyanti Putri Wardhana Pacu Revalidasi UNESCO Global Geopark: Targetkan Pengakuan Dunia 2026
Penguatan relasi dengan anggota UCCN aktif membuka jalan pertukaran bisnis kreatif serta aliansi dagang global yang menguntungkan pelaku usaha lokal.
“Kami akan terus memperkuat dossier yang sudah disusun, sekaligus memfasilitasi Kabupaten Bantul dan Kota Padang untuk membangun jejaring dengan anggota UCCN melalui koordinasi bersama Kementerian Luar Negeri. Publikasi dan aktivitas kreatif di daerah juga harus terus dilakukan secara konsisten agar potensi dan ekosistem kreatif terlihat di tingkat internasional,” tegas Menteri Ekraf.
Kementerian Ekraf bersama pemerintah daerah mematangkan dossier mulai November hingga Desember 2026 sebelum mendaftarkannya ke Sekretariat UCCN di Paris pada awal 2027. UNESCO menjadwalkan pengumuman resmi status keanggotaan pada Oktober 2027 mendatang.
Kolaborasi sektor privat, media, dan komunitas kreatif mempercepat laju pertumbuhan industri penunjang pariwisata urban di kedua kota.
Baca Juga: Trump Umumkan Penarikan AS dari UNESCO, Sebut Organisasi Tidak Sejalan dengan Kepentingan Nasional
Daya Pikat Kriya Sirkular Bantul Menembus Pasar Properti Urban
Bantul menawarkan magnet portofolio kriya bernilai sejarah Mataram Islam yang kini menyatu dengan tren hunian modern ramah lingkungan.
Perajin lokal mengolah material alami seperti serat eceng gondok, bambu, dan kulit lewat prinsip circular economy yang diminati pasar green living perkotaan.
Sektor kriya Bantul membukukan transaksi ekspor senilai USD 6,71 juta ke 38 negara serta menyerap lebih dari 45 persen tenaga kerja perempuan produktif dan perajin disabilitas.
Baca Juga: Lima Warisan Budaya Indonesia Resmi Diakui UNESCO sebagai Memori Dunia
“Kami berkomitmen untuk memperbaiki hal-hal yang masih belum sempurna, terutama memperkuat ekosistem kreatif di Kabupaten Bantul yang memang sudah terbangun cukup lama, tinggal menguatkan sehingga kemanfaatannya semakin dirasakan banyak warga Bantul,” ungkap Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.
Surga Gastronomi Padang Magnet Kuat Investasi Kuliner Dunia
Padang menyajikan daya tarik wisata gastronomi autentik yang memikat selera penikmat kuliner perkotaan melalui paduan tradisi multietnis Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias.
Seni meracik bumbu warisan dan teknik marandang kini bertransformasi menjadi rantai industri komersial skala global yang menyerap lebih dari 53 ribu tenaga kerja produktif.
Baca Juga: UNESCO Akui Pabrik Indarung I Sebagai Warisan Memori Asia Pasifik
Kehadiran fasilitas Sentra Rendang berstandar ekspor serta Bagindo Aziz Chan Youth Center kian memantapkan posisi Padang sebagai hub inovasi pangan modern.
“Kami sangat bersyukur hari ini. Menjadi salah satu nominasi untuk mengajukan kepada UNESCO Creative Cities Network bukan hal yang mudah. Tentu harus ada strategi penyusunan dossier yang bisa menerjemahkan potensi dan kekayaan Kota Padang. Kami berharap dukungan dari kementerian dan Panselnas untuk menyusun ini dengan sebaik-baiknya,” tutur Wali Kota Padang, Fadly Amran.
Ekspansi Jejak Kota Kreatif Mengerek Mesin Pertumbuhan Nasional
Inisiatif diplomasi kreatif ini melipatgandakan peluang ekspansi brand lokal menjadi kekuatan ekonomi nasional yang kompetitif di panggung global.
Baca Juga: Investasi Ekraf Indonesia-Mozambik Buka Peluang Bisnis Global Baru
Keberhasilan Bantul dan Padang menyusul jejak kota-kota kreatif Indonesia terdahulu—Pekalongan, Bandung, Ambon, Jakarta, Surakarta, Ponorogo, dan Malang—mempertegas kesiapan ekosistem kreatif domestik menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi baru berbasis identitas kota dan gaya hidup modern.




