Hasil laut sebagai komoditas utama, ditambah produksi ubi kayu, jagung, dan sagu yang dikelola lestari, bergantung pada kelancaran transportasi laut untuk menjaga distribusi, harga stabil, dan keberlanjutan ekonomi kepulauan.
Baca Juga: ASDP Siapkan Strategi Terpadu Hadapi Mudik Lebaran 2026 di Jalur Sumatera-Jawa-Bali
General Manager ASDP Cabang Bau-Bau, Zullivan Ramadhana, mengungkapkan bahwa cabangnya mengelola lima lintasan komersial dan 14 lintasan perintis dengan 14 unit kapal. Armada utama seperti KMP Bahteramas II dan KMP Sultan Murhum II menjadi andalan rute Kamaru–Wanci serta Kamaru–Kaledupa–Wanci–Tomia–Binongko.
Sepanjang 2025, layanan ini telah melayani lebih dari 14 ribu penumpang dan mengangkut sekitar 10 ribu kendaraan—bukti nyata kebutuhan konektivitas yang tinggi.
Dengan armada siap dan layanan lintasan yang diperkuat, ASDP berkomitmen membangun konektivitas laut inklusif. Upaya ini bukan sekadar operasional, melainkan langkah strategis untuk memperluas akses ekonomi masyarakat dan menjaga pariwisata bahari sebagai kebanggaan nasional.
Di era di mana kepulauan seperti Wakatobi bisa menjadi magnet investasi, konektivitas ini menjadi kunci agar kekayaan laut tidak hanya dinikmati wisatawan, tapi juga dirasakan oleh warga setempat.(*)






