Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa biaya penghimpunan dana berpotensi meningkat sehingga bank harus semakin selektif dalam mengelola pertumbuhan bisnis.
Baca juga:Â Transformasi Pertanian Era Prabowo: Pupuk Murah dan NTP Tertinggi dalam 34 Tahun demi Kedaulatan
Perkuat Transformasi Digital
Menghadapi perubahan tersebut, Bank Jakarta mempercepat transformasi di berbagai lini usaha.
Transformasi mencakup penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, peningkatan manajemen risiko, hingga pembentukan budaya kerja yang lebih adaptif terhadap perubahan.
Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta juga memperkuat pengembangan bisnis melalui optimalisasi ekosistem pemerintah daerah.
Selain itu, perusahaan terus meningkatkan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi digital, serta kualitas sumber daya manusia untuk mendukung layanan yang lebih modern.
Agus menambahkan bahwa penguatan manajemen risiko kini menjadi semakin penting karena tantangan industri tidak lagi hanya berasal dari risiko kredit.
“Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi,” ujarnya.
BEI Tekankan Pentingnya Investor Berkualitas
Dalam forum yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffry Hendrik menyoroti pentingnya meningkatkan kualitas investor sebagai fondasi pasar modal Indonesia.
Menurut Jeffry, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) terus memperkuat transparansi pasar, memperdalam pasar modal, serta meningkatkan keterbukaan informasi bagi investor.




