URBANCITY.CO.ID – Seiring memasuki tahun 2026, dunia pendidikan kembali menghadapi tantangan besar. Perkembangan teknologi yang pesat, seperti otomatisasi dan kecerdasan buatan, serta perubahan struktur ekonomi, membuat beberapa jurusan pendidikan mulai kehilangan relevansinya. Hal ini terjadi karena kebutuhan pasar tenaga kerja yang berubah cepat, sehingga tidak semua bidang keahlian masih sesuai dengan permintaan industri.
Dalam konteks ini, para pakar pendidikan menyoroti bahwa sistem pendidikan perlu dievaluasi agar dapat menghasilkan lulusan yang adaptif dan kompetitif. Beberapa jurusan dianggap kurang relevan bukan karena ilmunya sudah ketinggalan zaman, melainkan karena ada tumpang tindih kompetensi dengan jenjang pendidikan lainnya.
Di sisi lain, ada bidang yang masih sangat dibutuhkan, tetapi kurang diminati karena penghargaan dan prospek karier yang dianggap kurang menjanjikan.
Situasi ini mendorong perlunya evaluasi ulang terhadap pengembangan jurusan, terutama di pendidikan vokasi dan sekolah menengah kejuruan. Dengan demikian, kebijakan pendidikan ke depan dapat lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang sesungguhnya.
Baca juga : Pasar Modal Indonesia Tangguh dan Berintegritas Sepanjang Tahun 2025
Lantas, jurusan mana saja yang mulai tidak lagi relevan mulai 2026? Mari kita simak penjelasan dari para pakar.
Dalam bidang pendidikan vokasi, pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas, menyoroti ketidaksesuaian beberapa program keahlian di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini. Menurutnya, jurusan seperti Administrasi Perkantoran, Manajemen, dan Akuntansi di tingkat SMK mulai kehilangan relevansi karena kebutuhan tenaga di bidang tersebut sudah banyak dipenuhi oleh lulusan politeknik atau sarjana strata satu.
“Kemampuan lulusan SMK dari jurusan-jurusan itu tidak mungkin mampu bersaing dengan lulusan politeknik atau S1. Sementara anak-anak SMK yang mengambil program tersebut belum tentu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” Rabu (31/12/2025).
Ia bahkan menilai bahwa jika tidak ada penyesuaian serius, pembelajaran di jurusan tersebut berpotensi sia-sia dan perlu dievaluasi mendalam.
Sebaliknya, Darmaningtyas menekankan bahwa sektor agro, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kelautan, tetap sangat dibutuhkan hingga saat ini. Masalahnya bukan pada relevansi, melainkan pada rendahnya penghargaan terhadap sektor-sektor tersebut.
“Sektor agro sebetulnya tetap dibutuhkan, cuma selama ini penghargaan terhadapnya masih kurang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pengenalan bidang-bidang agro kepada siswa SMK sudah tepat, asalkan disesuaikan dengan tingkat kompetensi peserta didik. Di jenjang SMK, siswa belum dituntut untuk mahir sepenuhnya, melainkan diperkenalkan sebagai fondasi awal sebelum pendalaman di perguruan tinggi.
“Sebagai pengenalan kepada pelajar SMK itu sudah oke, sesuai tingkatannya. Kemampuan mereka memang belum sampai tahap mahir, tapi sudah saatnya dikenalkan sejak SMK,” ucapnya.
Lebih lanjut, Darmaningtyas juga membahas relevansi jurusan di bangku kuliah. Namun, ia menegaskan bahwa relevansi sebuah jurusan kuliah tidak bisa dilepaskan dari tujuan utama menempuh pendidikan tinggi. Jika kuliah dimaknai sebagai proses membangun dan mengasah pola pikir, maka seluruh jurusan tanpa kecuali akan tetap relevan sepanjang zaman.
“Kalau kuliah itu tujuannya untuk mengembangkan pola pikir maka semua jurusan di bangku kuliah akan selalu relevan sepanjang zaman,” jelasnya.
Baca Juga : Planetarium Jakarta Dibuka Kembali Setelah 13 Tahun, Jadi Pusat Edukasi Astronomi di Jakarta
Tapi, persoalan muncul ketika kuliah dipersempit hanya sebagai jalan cepat menuju pekerjaan. Dalam kerangka berpikir sempit tersebut, jurusan-jurusan dengan basis ilmu sosial dan humaniora kerap dicap tidak relevan karena dianggap tidak memiliki jalur karier yang lurus dan pasti.
“Kalau tujuan kuliah hanya untuk mencari pekerjaan, tentu ada bidang-bidang yang dianggap tidak relevan, terutama ilmu sosial dan humaniora, karena tidak mudah mendapatkan lapangan kerja yang konsisten dengan bidang keilmuannya,” ujar Darmaningtyas.
Sebaliknya, ia menekankan bahwa jika pendidikan tinggi diarahkan untuk membentuk cara berpikir kritis, analitis, dan reflektif, maka jurusan-jurusan sosial dan humaniora justru akan terus relevan menghadapi perubahan zaman.
“Kalau kuliah tujuannya mengembangkan pola pikir, maka jurusan-jurusan dengan napas sosial dan humaniora akan selalu relevan terhadap perkembangan zaman,” katanya.




